Karyawan
Pencet Bell
Karyawan
dengan segala kemampuannya, dalam bekerja selalu memiliki sifat profesinalisme,
merupakan satu kebutuhan yang sangat urgen dalam sebuah lembaga atau
perusahaan, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Namun dalam
pelaksanaannya, sangat sulit untuk menemukan sifat ini pada seorang karyawan.
Karyawan pencet bel yang dimaksud disini adalah karyawan yang tidak mau bekerja
sebelum tiba waktu yang ditentukan, kemudian menjelang habis jam kerja,
aktifitasnya hampir tidak ada kecuali menunggu bel atau waktu untuk off
bekerja.
Sebuah masalah yang nampaknya ringan, namun membutuhkan
pemikiran yang sangat tajam untuk melakukan perubahan dalam prinsip-prinsip
pekerjaan sebagai seorang karyawan. Sifat karyawan yang kurang loyal terhadap
lembaga atau perusahaan ia bekerja, menunjukkan ketidak profesionalan dalam
rutinitasnya. Karyawan pencet bel tidak akan memiliki inovasi untuk melakukan
hal-hal yang baru dalam aktifitasnya, ia akan cendrung mengerjakan apa yang
sudah menjadi rutinitasnya saja. Padahal posisi seorang karyawan dalam sebuah
lembaga atau perusahaan sangat menentukan, karena posisi karyawan sama halnya
seperti roda motor, apabila roda motor tidak berjalan, tentu motornya tidak
akan bisa berjalan. Perusahaan tidak akan berjalan, jika karyawannya tidak bisa
berjalan seimbang.
Inovasi
suatu lembaga atau perusahaan, mestinya lebih banyak melakukan pembaharuan,
agar perjalanannya tidak jalan di tempat.
Menghadapi jaman yang terus berubah, tentunya karyawan juga harus terus
membenahi diri untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan
jaman, agar bisa menjadi karyawan yang memiliki sifat profesionalisme.
Untuk
memiliki sifat profesionalisme, tidak cukup hanya dengan modal pintar saja,
tetapi harus disertai dengan rasa kecintaan serta memerlukan pengorbanan.
Sebuah pengorbanan karena cinta terhadap sebuah profesi, akan melahirkan
kekuatan yang sangat dahsat, sehingga tantangan-tantangan dalam suatu pekerjaan
menjadi sebuah kenikmatan yang lezat.
Sering kali dalam sebuah lembaga atau
perusahaan, dalam merekrut SDM atau karyawannya, berjalan lancar dan sangat teliti,
selain tes tertulis dan wawancara, bahkan terkadang harus melalui test
psikologi dan sebagainya, namun dalam mengembangkan potensi karyawan , terdapat
beberapa kesulitan, terutama dalam manajemen SDM dan pengelolaannya.
Berurusan
dengan manusia memang merupakan urusan yang sangat konflik, karena sepuluh
manusia pasti akan berbeda pemikirannya. Tentunya, seorang Nakhoda dalam sebuah
perusahaan, mesti pandai megayomi dan memahami karyawannya. Lebih dari itu,
seorang nakhoda juga harus membuat kebijakan-kebijakan yang jelas dan
bermanfaat, baik dari sisi positif maupun negatifnya. Konsepnya karyawan adalah manusia bukan robot,
layaknya sebagai manusia, butuh pemimpin yang bisa memanusiakan manusia.
Aturan yang
ketat dalam sebuah perusahaan, terkadang membuat para karyawan merasa bosan dan
tidak betah, walaupun sebenarnya perasaan itu,
datang dari seorang karyawan yang tidak profesional, tetapi tetap saja
sangat berpengaruh dalam perjalanan perusahaan. Kondisi seperti inilah yang mewajibkan Nakhoda suatu perusahaan, dalam membuat
kebijakan, mesti dengan pemikiran yang jernih dan benar-benar adil.
Dalam
bukunya Dr. Thariq Muhammad As-Suwaidan (2009) disebutkan, “karakter manusia
bervariasi dalam merespons faktor-faktor yang merangsang terhadap semangat dan
antusiasme mereka kepada pekerjaan, antara satu orang dengan yang lain dan satu
intitusi dengan yang lain. Sebagai pegawai bisa dimotifasi dengan pemberian
gelar-gelar yang menyenangkan, karena hal itu mengandung motifasi yang kekal.
Dan sebagaian yang lain bisa dimotifasi dengan cara mengobarkan semangat melaui
visi-visi ke depan”.
Pemimpin
dalam suatu lembaga atau perusahaan, harus bisa menggerakkan manusia kepada
sebuah tujuan, sesuai dengan kadar kemampuan dan kompetensi dari masing-masing
individu. Jika penggerakan ini tidak berhasil, maka karyawan sangat sulit untuk
melakukan pembaharuan-pembaharuan, sebab tidak bisa koneks antara pemimpin dan
tujuan sebuah perusahaan.
Pentingnya
pemahaman karakter dan kemampuan karyawan perusahaan, menuntut para pemimpin
agar dalam aksinya, bisa membangkitakan semangat karyawannya. Dalam menjalankan
perusahaan, seorang pemimipin tidak mungkin mampu memastikan karyawannya jam berapa masuk dan keluar kantor. Apalagi
untuk memastikan, apakah sampai di Kantor sudah bekerja dengan baik atau tidak.
Pada saat pemimpin menilai pekerjaan hanya dengan ukuran waktu, maka akan
lahirlah karyawan-karyawan pencet bel berikutnya, sehingga dalam pelaksanaan
pekerjaannya tidak berjalan secara efektif karena hanya berdasarkan waktu jam
kerja.
Namun, jika
seorang pemimpin mampu memotifasi dan membangkitkan karyawannya untuk bekerja
tidak bergantung dengan waktu, serta memahami karakter dan kemampuan
karyawannya, maka akan melahirkan karyawan-karyawan yang memiliki loyalitas
yang sangat tinggi, sehingga dalam bekerja tidak harus diawasi, karena mereka
akan bekerja dengan hati yang tulus. Bahkan di luar jam kerja sekalipun,
apabila perusahaan membutuhkannya, selalu siapa karena pekerjaan itu sudah
menyatu dengan hatinya.
Sebagai kesimpulan,
fenomena kehidupan sebagai seorang karyawan dalam sebuah lembaga atau
perusahaan sangat banyak keberagaman, Mulai dari status, pengabdian, pergaulan
dan rutinitas di Kantor sangat memerlukan perhatian dari seorang pemimipin,
terutama dalam memotifasi dan
menggerakkan pikiran manusia sebagai karyawan yang profesional. Kemudian
sebagai saran kepada para pemimpin
perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun swasta, agar benar-benar
memperhatikan upah minimum yang diberikan perusahaan kepada karyawannya. Pada
saat kebutuhan karyawan sudah terpenuhi, tentu hatinya akan selalu terdorong
untuk memberikan hal yang terbaik untuk perusahaan tempanya bekerja.