pemimpin Idola

Pemimpin, Harapan dan Idola

Oleh
Tantomi Simamora, S.Sos.I

Pernah terlintas dalam pikiran saya, Menjadi seorang pemimpin itu, sangat menggiurkan dan cukup menjanjikan, baik dari segi pangkat maupun penghasilan. Terlebih saat ini, menjelang Pilkada Serentak 2017 akan dilaksanakan, seorang calon kepala Daerah akan melakukan kampanye bergengsi, dalam rangka mencari simpatisan dan dukungan rakyat, agar dia terpilih menjadi seorang pemimpin, paling tidak di daerahnya. Sungguh pekerjaan yang sangat profesional dan sangat menantang. Kemudian dalam pikiran saya, keberhasilan seorang pemimpin untuk mencari dukungan tersebut, merupakan pekerjaan cukup berat, karena hanya  seketika, bisa meyakinkan rakyat untuk memilihnya menjadi seorang pemimpin.
Padahal, pekerjaan yang sangat sulit menurut penulis adalah merobah tingkah laku manusia, karena seratus manusia pasti akan berbeda-beda pikirannya. Untuk menyatukan hati manusia bukanlah pekerjaan yang mudah, memerlukan pemimpin yang benar-benar paham ilmu tentang sosial dan psikologi manusia. Lebih dari itu, seorang calon pemimpin, mesti kuasai ilmu politik yang mantap serta memberi pengaruh positif bagi Publik.
Untuk menjadi seorang pemimpin, berbagai cara dilakukan untuk mencari dukungan dari rakyat seperti terjun langsung ke masyarakat untuk mempromosikan dirinya, memberi bantuan kepada rakyat, bahkan terkadang harus dengan memberikan bayaran untuk suara rakyat. Dalam hal ini, Penulis tidak bermaksud mengungkap kasus suap, namun yang jadi sorotan disini adalah betapa sulitnya menjadi pemimpin.
Jika kita lihat dari pengkajian sejarah Islam, kondisi jaman yang sangat buruk saat itu yang dikenal dengan jaman jahilyah memerlukan seorang pemimpin untuk  memberikan penerangan yang pasa saat itu penuh dengan kegelapan. Muhammad diangkat sebagai Rasul melalui firman Allah dalam Al-Qur’an Suroh Al-‘Alaq ayat 1-5. Kalimat (Iqro’) bukanlah sekedar membaca, tetapi pada saat itu juga, Nabi Muhammad diutus untuk semua umat dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang penuh dengan keburukan.  Malaikat Jibril mengulanginya sampai tiga kali sebagai penegasan, betapa pentingnya membaca dan berpikir sebelum melakukan.
Dari kejadian itu, bisa kita ambil hikmah, betapa beratnya jadi seorang pemimpin, nabi Muhammad SAW sampai menggigil, sesaat setelah menerima wahyu tersebut. Menjadi seorang pemimpin ummat butuh pemikiran yang sangat luas, tidak hanya cerdas tetapi harus bisa menjadi contoh yang baik kepada yang ia pimpin.kemudian yang terpenting untuk diperhatikan seorang pemimpin, bahwa tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya kepada manusia, tetapi langsung bertanggung jawab dengan Rabbnya.
Meski berat menjadi pemimpin, tetapi manusia dituntut untuk  menjadi pemimpin, karena kualitas masyarakat sangat ditentukan oleh seorang pemimpin yang bisa mengendalikan sosial dan budaya dalam suatu masyarakat. Walaupun tidak bisa menjadi pemimpin orang banyak, paling tidak bisa menjadi pemimpin diri dan keluarganya.
Kepemimpinan adalah salah satu masalah yang penting dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga, instansi maupun pemerintahan. Kehadiran pemimpin akan menjadi idola dalam kehidupan, apabila dalam kepemimpinannya memiliki power yang kuat untuk memutuskan suatu kebijakan penuh dengan keadilan yaang merambat kepada semua kalangan,  mulai dari masyarakat level bawah sampai level yang paling tinggi.
Namun, saat ini kita sangat merasakan kegagalan-kegagalan dalam pemimpin, dibuktikan dengan banyaknya masalah-masalah yang tidak terselesaikan di Negeri tercinta ini, mulai dari masalah ekonomi, sosial bahkan dibidang agama sudah sangat terlalu jauh, dengan maraknya Isu Sara dan Penistaan agama. Hal ini sangat perlu untuk dilakukan kajian yang sangat mendalam, agar hal tersebut tidak tercatat dalam sejarah kemunduran Negara di  Indonesia.
Tentu kita sangat merindukan seorang pemimpin yang menjadi idola rakyat, karena dalam setiap kebijakannya selalu membawa kearifan dan kedamaian. Indonesia harus mempersiapkan generasi pemimpin yang adil pada masa yang akan datang, termasuk untuk melakukan pembinaan untuk para calon pemimpin saat ini, baik ditingkat daerah maupun Nasional, agar dalam kepemimpinannya nanti bisa membuahkan hasil yang bisa kita rasakan bersama bukan hanya untuk  sebuah kelompok.
Di Era globalisai yang serba maju ini, menunutut para pemimpin bangsa ini, agar melakukan pembaharuan-pembaharuan, mengingat banyaknya kekacauan-kekacauan yang datang dari mental-mental manusia sebagai perusak, hal itu akan mengakibatkan merosotnya ekonomi, politik,budaya maupun sosial. Sedangkan harapan dari rakyat sudah lama terpendam agar Negeri ini dilindungi oleh para pemimpin yang adil serta dalam membuat keputusan secara bijak dan tegas.
Kondisi suatu negeri akan semakin membelenggu, jika tidak hadir seorang pemimpin yang disukai rakyat karena keadilannya. Terwujudnya negeri yang aman dan sejahtera memang tidaklah pekerjaan yang mudah, perlu perjuangan yang berat dari para pemimpin bangsa ini. Tugas ini sebenarnya tanggung jawab kita semua, tetapi harus didukung oleh pemimpin baik di tingkat eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Sebagai kesimpulan, untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu hal yang mudah, karena harapan rakyat sangat besar bagi mereka, agar mampu mengendalikan negeri tercinta ini dari kekacauan-kekacauan yang mengakibatkan kemunduran. kemudian yang terpenting untuk kita ketahui, bahwa sifat pemimpin yang adil dan bijak itu datang dari kharakter seorang pemimpin yang tulus, tidak datang dari sembarang orang. Terlebih-lebih menjelang Pilkada ini, berhati-hatilah dalam memilih pemimpin, jika awalnya saja seorang  pemimpin dalam mencari dukungan memakai jalan yang salah, tentu hasilnya pasti lebih salah. Pemimpin Idola yang menjadi harapan rakyat adalah pemimpin yang mampu mewakili rakyat untuk mengemban amanah sesuai dengan bidang yang ia pimpin. Mari kita  terus berdoa , agar Negeri ini mendapat pemimpin terbaik yang mampu melakukan perubahan-perubahan, demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan rakyat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar