Pemimpin Penebar Kebohongan

Pemimpin Penebar Kebohongan
Oleh:
Tantomi Simamora, S.Sos.I

Indonesia salah satu Negara Demokrasi terbear di Dunia, mayoritas beragama islam, seharusnya bisa menjadi contoh pemimpin yang mempunyai Idealisme. Namun Ironisnya, masih banyak Pemimpin yang terpilih karena uang. Selain uang, untuk meraih suara terbanyak dalam pemihihan pemimpin, sering kali menggunakan agama sebagai simbol.  Kualitas kepemimpinan yang seperti ini adalah hasil dari kebohongan apabila tidak amanah dan Tanggung jawab. Jangan pernah berharap kepada kebaikan yang hakiki, apabila usaha yang kita lakukan bercampur dengan kebohongan
Seorang pemimpin dalam menegakkan keadilan mestinya harus menghindari kebohongan, hendaknya ini bisa dipahami para pemimpin yang menginginkan keberkahan hidup, sehingga terwujud negara yang cinta akan kebenaran hakiki bukan kebenaran semu. Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Mereka akan sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh kepercayaan dari pengikutnya.
Disi lain, ada pemimpin yang sangat suka menebarkan kebohongan dengan mengatas namakan agama, berkata tidak sesuai isi hatinya, memakai simbol agama namun tak terlihat dalam dirinya pancaran dari prilaku yang agamis. Semua itu dilakukan demi kepentingan politik, agar bisa menjadi seorang pemimpin.Tentu saja hal ini akan menjadi musibah bagi suatu negeri atau terhadap orang-orang yang ia pimpin, karena semua harapan adalah harapan kebohongan.
Akan sangat mengkhawatirkan, apabila Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas islam tidak memilki aset pemimpin yang jujur,  Kondisi yang sangat memperihatinkan saat ini , korupsi dan pungli semakin merajalela, menunjukkan kebobrokan kepemimpinan, karena kerap kali  dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kemudian fenomena kehidupan saat ini, banyak yang melakukan penipuan dengan berkedok agama. Sebagai contoh kasus yang mencuat sekarang Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang diduga telah melakukan penipuan.terjadinya banyak korupsi di negara kita ini, merupakan bukti nyata bahwa Indonesia miskin pemimpin amanah.
Banyak contoh yang tidak perlu disebutkan, terkait dengan pemimpin yang terbukti melakukan kecurangan-kecurangan di negeri tercinta ini, sehingga dalam perjalanan pemerintahan, waktunya habis terkuras untuk mengatasi kasus/perkara terkait dengan pemimpin bangsa sendiri. Akibatnya, kemerosotan ekonomi, karakter tidak bisa diatasi sampai sekarang, hanya karena sifat kebohongan. Tidak kah kita melihat dalam sejarah, bahwa kepemimpinan yang jujurlah yang akan membangkitkan dunia ini kepada kebangkitan yang hakiki.
Para penebar kebohongan akan menghasilkan kekosongan, beribu janji yang  diubar tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali rasa kecewa dari orang-orang yang menjadi target pembohongan tersebut. Jika diibaratkan sama seperti sebuah bangunan yang hanya tinggal simbolnya saja, isinya sudah tidak ada, karena sudah bangkrut karena tidak ada aset lagi untuk membangunnya. jika dia menebar kebohongan dengan mengatas namakan agama, maka sama juga halnya seperti Islam yang hanya simbol atau Islam KTP, Islam hanya sebagai status saja. Maka dalam hal ini, yang menjadi aset utama dalam memimpin adalah kejujuran yang bukan hanya dari ucapannya, namun harus terwujud dalam perbuatannya.
Allah mengisaratkan kepada muslimin, agar selalu bersama orang-orang yang jujur karena jauh bermanfaat dari pada pendusta. Fenomena kehidupan yang terjadi saat ini, menunjukkan bahwa sudah menjadi kewajiban bagi negeri ini, untuk mencari pemimpin yang benar-benar jujur. Sebab kita meyakini, negeri akan aman jika dikendalikan orang-orang jujur, sebaliknya jika dikendalikan para pendusta akan membawa azab bagi negeri ini. Lazimnya negeri ini segera melakukan pembaharuan-pembaharuan baru dalam memimpin. Sejenak kita melihat sejarah, bahwa kemajuan umat islam pada masa Daulah Abbasiyah dibawah pimpinan Harul Al-Rasyid, telah melahirkan peradaban islam yang maju dan berkembang. Bahkan masa pemerintahannya, dianggap sebagai puncak kemajuan Islam atau sering disebut dengan masa keemasan Islam. Kekjujurannya dalam memimpin, ketika Yahya bin Khalid selaku yang membesarkannya di Istana, melakukan korupsi, tidak pandang bulu, beliau memberlakukan hukum sama seperti yang lainnya.
Kenapa para pemimpin yang beriman tidak pernah coba-coba untuk berbohong?. tidak ada jawaban yang lain kecuali karena mereka benar-benar yakin, bahwa sebuah kemenangan yang hakiki diperoleh dengan kejujuran yang sudah dicontohkan para nabi, sahabat sampai tabi’in. Apabila kita sudah meyakini ajaran tentang kejujuran, mestinya harus melakukan perubahan dari diri, agar menjadi orang jujur, terutama kepada generasi muda sebagai penerus bangsa ini. Kejujuran hanya bisa diraih denga hati yang bersih, ketika hati telah kosong dan dikotori oleh perbuatan-perbuatan zolim, otomatis akan merusak hati yang pada awalnya adalah suci.
Sebagai kesimpulan, Kebohongan akan menghasilkan kebohongan lain. Sebaliknya kebenaran akan meraih level tertinggi dalam kehidupan, terutama bagi para pemimpin bangsa ini, seyogianya menyadari bahw Kebenaran akan datang dari hati kecil manusia yang tidak pernah berdusta, jika hati terus diisi dengan mengingat Allah, tentunya akan mewujudkan kenyamanan. Kalau perut sedang lapar maka akan membutuhkan makan tetapi jika hati telah kosong lazimnya diisi dengan Zikir (mengingat Allah SWT).

Pemimpin yang selalu menebarkan kebohongan akan menghasilkan sesuatu yang kosong dan tidak berarti apa-apa. Apabila berharap kepada pemimpin penebar kebohongan, maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kekecewaan. Pemimpin penebar kebohongan tidak hanya berdampak negatif kepada dirinya, namun akan menjadi fitnah untuk orang lain, terutama untuk orang-orang yang ia pimpin. Yang sudah jelas dalam ajaran Islam, bahwa pemimpin penebar kebohongan sangat bertolak belakang dengan kehidupan beragama yang merindukan pemimpin yang amanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar