Pembelajaran UN
Tidak terlalu
aneh jika keberadaan UN dihadapan para siswa di indonesia, sesuatu hal yang
membuat kebingungan dan stress karena proses belajar selama 3 tahun diakhiri
dengan ujian nasional yang hanya beberapa hari saja. UN juga menyita waktu yang
banyak mulai dari try out, evaluasi serta menyesuaikan dengan pendidikan pusat.
Meskipun ujian
nasional tidak penentu kelulusan hanya sebagai pemeetaan tetapi tetap saja
sekolah terus berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan nilai tertinggi
dari sekolahnya karena akan berpengaruh nantinya kepada penerimaan mahasiswa
di PTN. Entah alasan apapun itu, guru
dan siswa tentunya tidak mau- kalau nilai dari sekolahnya adalah rata-rata.
Nampaknya UN itu sesuatu hal yang tidak asing lagi bagi pendidikan di
indonesia, bagaimanapun trik yang dibuat oleh pemerintah agar soal UN tidak
bocor kepada siswa, meski dengan seratus paket pun-kunci jawabannya pasti akan
ditemukan, Guru kok dilawan.
Ujian Nasional
hanya akan mengajari siswa dan guru untuk berbohong yang akan menghasilkan
kebohongan-kebohongan berikutnya. Dari awal guru sudah menanamkan kejujuran
kepada anak didiknya dengan harapan indonesia akan memiliki pemimpin-pemimpin
yang jujur dan berkharakter tetapi harapan itu hancur begitu saja pada saat
detik-detik terakhir di bangku sekolah karena pembelajaran U N yang kurang
bermanfaat. Jika seorang dari siswa mengerjakan soal UN tidak berdasarkan
bocoran soal yang diberikan guru karena di hatinya sudah tertanam kejujuran,
apakah siswa ini nantinya akan menjadi
siswa yang terburuk nilainya dibanding teman yang lainnya.bukan hanya itu
mungkin siswa ini akan kehilangan kesempatan untuk pendidikan faporitnya.
Berdasarkan hasil UN, mungkin siswa ini memiliki nilai yang lebih rendah dari
yang lainnya karena butuh perjuangan yang berat untuk mengerjakan soal tersebut
tetapi kalau kita mengamalkan kejujuran yang sebenarnya, siswa ini jauh lebih
berhasil dari yang lainnya.
Ketika
siswa kita diajari lebih banyak diajari untuk pintar dan pintar, maka sangat
wajar sekali jika nantinya pimpinan-pimpinan di indonesia banyak yang korupsi
karena hanya sedikit dibekali dengan pendidikan kharakter. Ujian Nasional hanya
beberapa hari saja tetapi meninggalkan budaya yang tidak mendidik_termasuk sebagian
siswa-siswi mencoret-coret baju bagi
siswa yang lulus UN adalah menjadi kenangan tersendiri bagi mereka yang
sebenarnya sangat kurang bermanfaat. Apakah guru-guru indonesia tidak galau
melihat tradisi siswa yang seperti ini? Mengapa merayakan kelulusan harus dengan
coret-coret baju? Tugas berat bagi guru, bahwa pembinaan kharakter belum
sepenuhnya berhasil yang menjadi tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar