Pendidikan
karakter pada batak mempunyai nilai-nilai karakter yang begitu berharga dalam
rangka membentuk karakter generasi bangsa ini. Pendidikan karakter adalah suatu
sistem yang terus berupaya untuk menanmkan nilai-nilai karakter di sekolah,
sehingga anak didiknya tidak hanya cerdas, namun memiliki karakter yang baik.
Salah satu esensi dari nilai-nilai karakter itu adalah kearifan lokal yang
sebenarnya sudah ada sejak dulu tertanam dalam hati setiap bangsa Indonesia.
Kearifan lokal merupakan ciri khas dan kebanggaan Indonesia yang memiliki beragam
banyak budaya dan tradisi. Bahkan kearifan lokal sebenarnya bisa dijadikan
sebagai pemersatu bangsa. Namun saat ini
nilai-nilai kearifan lokal sepertinya sudah mulai pudar karena derasnya arus
budaya asing yang sangat bertolak belakang dengan budaya dan tradisi asli
Indonesia.
Padahal
kearifan lokal Indonesia memiliki nilai-nilai karakter yang seharusnya
dijadikan sebagai rujukan pada sistem pendidikan di negeri ini. Kita contohkan
saja adat batak. Sampai saat ini orang batak dikenal memiliki rasa sosial yang
tinggi, walapun dari segi bahasa terlihat sedikit kasar, namun orang batak
memiliki prinsip kehidupan yang terbuka dan saling menghargai. Dalam bukunya
Muchlas samani (2012) disebutkan ada beberapa nilai-nilai karakter pada adat
batak. “ Pertama, Disi Tano nainganhon,
disi solup pinarsuhathon. Artinya, orang menerima beras menurut takaran
umum dimana ia tinggal. Orang wajib patuh pada hukum dan adat isitiadat di
daerah yang menjadi tempat tinggalnya”. Ajaran ini mengandung banyak nilai-nila
falsafah kehidupan, sehingga hampir di seluruh daerah di Indonesia memahami
bahwa dimana bumi di pijak disitu langit kita junjung.<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
Kedua, “ sada sangat tu ama, dua sangap tu ina”.
Artinya satu penghormatan untuk bapak, dua penghormatan untuk ibu. Masyarakat
batak sangat menghormati ibu karena ibu yang mengandung, menyusui dan mengasuh
si anak. Ketiga, Hotang hotari hotang
pulogos, gogoma mansari, nadangol do napogos. Artinya, berusahalah sekuat
tenaga karena kemiskinan itu identik dengan penderitaan. Orang harus kerja
keras agar berhasil tidak miskin dalam hidupnya. Keempaat, “Siani dijalo tusima ipaulak”. Artinya,
dari siapa sesuatu diterima, kepadanya pula harus dikembalikan. Ada budi ada
balas. Kelima, “ Tusi tamu mangalakka,
disima hamu dapotan”. Artinya, kemana kamu melangkah disitulah kamu
hendaknya mendapat rezeki. Optimis terhadap kebesaran Tuhan, rezeki dapat
diperloleh dimana-mana. Keenam, “
Pangkulingdo situan nadenggan”. Artinya, budi bahasa yang baik sangat
pentingg dalam bermasyarakat. Bahasa dan prilaku selalu terbawa dalam pergaulan
antar manusia, dan ini memengaruhi keberhasilan jalinan hubungan.
Pendidikan
karakter pada batak mempunyai nilai-nilai karakter yang begitu berharga dalam
rangka membentuk karakter generasi bangsa ini. Maka penting sekali untuk
menggali lebih dalam ilmu dan budaya yang telah diciptakan oleh para leluhur
batak. Termasuk dalam menghadapi gejolak yang terjadi di Negeri tercinta ini,
jangankan sesama warga Negara Indonesia, sesama orang batak saja sudah banyak
terjadi perselisihan. Ini pertanda bahwa rasa persaudaraan sudah semakin
menurun karena lebih mementingkan emosi dan hawa nafsu. Sungguh sangat disayangkan, Negara Indonesia
yang dikenal sebagai Negara yang berbudaya, sejatinya menjadikan kearifan
lokalnya sebagai ajang dalam membentuk pendidikan karakter. Bahkan tidak hanya
orang batak, hampir seluruh daerah di Indonesia ini punya kearifan lokal
masing-masing yang sudah tidak diragukan lagi nilai-nilainya, apapun budayanya,
semua menuju kemaslahatan kehidupan.
Menjadikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai rujukan
dalam pendidikan merupakan salah satu solusi yang paling tepat untuk kemajuan
pendidikan, sekaligus mendamaikan negeri tercinta ini. disamping adanya
kearifan lokal juga sesuai dengan Negara Kebhinnekaan yang memeiiki banyak
keberagaman tetapi tetap satu sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Budaya
menegakkan kebenaran dan berkecimpung dalam dunia hukum merupakan dunia orang
batak sesuai dengan filosofinya patik dohot uhum. Hidup orang batak sejak jaman
purba banyak diukirkan dalam sejarah leluhur batak, bahwa mereka adalah orang
yang kerap memperjuangkan hak-hak asasi manusia, maka sangat wajar sekali,
kalau orang batak dikenal dengan ketegasan dan kepandaiannya dalam beretorika,
bahkan ada orang yang berpendapat batak adalah banyak taktik, karena selalu
menggunakan akal dan pikirannya untuk lebih baik menuju masa depan yang lebih
cerah.
Lebih dari
itu, jika kita lihat dari segi hukum, menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita
karena salah satu hukum yang masih berlaku sampai sekarang adalah hukum adat.
dan keberadaannya pun diakui, karena pada hakikatnya lebih mudah diterima
masyarakat dan telah banyak terbukti memiliki efek jera bagi para pelakunya,
karena hukum adat sesungguhnya terkait langsung dengan adat dan norma yang
masih berlaku pada masing-masing daerah. Maka dalam menghadapi gejolak yang
terjadi di Negeri tercinta ini, jangankan sesama warga Negara Indonesia, sesama
orang batak saja sudah banyak terjadi perselisihan. Ini pertanda bahwa rasa
persaudaraan sudah semakin menurun karena lebih mementingkan emosi dan hawa
nafsu. Sungguh sangat disayangkan,
Negara Indonesia yang dikenal sebagai Negara yang berbudaya, sejatinya
menjadikan kearifan lokal sebagai ajang untuk mempersatukan umat Islam. bukan
hanya orang batak, hampir seluruh daerah di Indonesia ini punya kearifan lokal
masing-masing yang sudah tidak diragukan lagi nilai-nilainya, apapun budayanya,
semua menuju kemaslahatan kehidupan. Maka dalam hal ini penting kiranya untuk
menjadikan kearifan lokal sebagai rujukan dalam pendidikan karakter, sebab
generasi bangsa Indonesia pada hakikatnya mencintai ke’arifan lokal sesuai
dengan daerahnya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar