Pungli, Kejahatan terselubung di Sekolah

Pungli, kejahatan Terselubung Di Sekolah


“Bekerja dalam Dunia Pendidikan mesti memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak serta memiliki pondasi keagamaan yang kuat, agar terhindar dari pungli, yaitu sebuah kejahatan yang mengotori marwah pendidikan”.

Pungli sebagai salah satu perbuatan jahat oknum para pejabat yang menyalah gunakan kekuasaannya untuk mengutip pembayaran yang tidak tercantum dalam aturan pemerintah. Praktek pungli cenderung sifatnya memaksa, bahkan termasuk kategori pemerasan, karena diluar dari pembayaran resmi aturan pemerintah. Pungli juga banyak mendefinisikan dengan sebutan pungutan lihai karena sudah merambat ke berbagai lembaga, termasuk Pendidikan yang dikenal sebagai wadah untuk menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter.
Apa jadinya kalau pungli semakin marak dalam dunia pendidikan. Tentu pungli sebagai bentuk salah satu kejahatan akan berdampak negatif untuk kemajuan pendidikan. Pendidikan yang bertujuan untuk membentuk karakter, malah menjadi jalan terjadinya kejahatan. Akhir-akhir ini banyak media memberitakan tentang pungli masuk ke ranah pendidikan seperti berita di waspada edisi 12 nopember 2016 “pungli sudah masuk ke ranah pendidikan”. Tak perlu kita sebut satu persatu, namun yang terpenting menurut penulis, agar pungli di dunia pendidikan, hendaknya segera di sapu bersih oleh SATGAS SABER Pungli yang telah dibentuk oleh Pemerintah.
Ini akan menjadi masalah yang pasti kian membelenggu dalam dunia pendidikan, apabila tidak segera diselesaikan. Percuma pemerintah mengeluarkan APBN sebesar 20 % untuk pendidikan, apabila dalam penyalurannya tidak efektif. Justru ini akan menjadi penghalang untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
pungli pada ranah pendidikan menunjukkan ketidak jujuran dalam menjalankan amanah pendidikan di Indonesia, baik sebagai kepala Dinas maupun kepala sekolah. Saya tidak bisa bayangkan, betapa cerdas dam cerdiknya seseorang yang melakukan pungli di dunia pendidikan. Penting sekali untuk dipahami, agar Saber Pungli pada ranah pendidikan dilakukan dengan sangat teliti karena pelakunya adalah orang-orang pintar yang punya mental sebagai perusak wajah pendidikan. Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana membuat laporan LPJ nya kepada pemerintah, sehingga tersusun rapi padahal penuh dengan kebohongan-kebohongan.
Pada saat pungli dibiarkan dalam dunia pendidikan, besar kemungkinan pendidikan tersebut secara tidak langsung melahirkan kurikulum baru yaitu membudayakan pungli. Dalam dunia pendidikan, sering kali terjadi pengutipan-pengutipan yang kita anggap hal biasa, seperti pengutipan administrasi ujian, biaya peralatan dan lain sebagainya. memang kita tidak bisa langsung menyalahkan Sekolah, karena pungutan tersebut terkadang bertujuan untuk proses belajar mengajar yang sangat urgen. Namun tetap saja,  hal itu bisa menjadi penyebab membudayanya pungli di Sekolah, meskipun karena keterbatasan biaya. Dalam hal ini, mungkin perlu transparansi dalam mengelola keuangan, agar tidak ada lagi kutipan di pertengahan pembelajaran.
Apabila pungli terus marak dalam dunia pendidikan, Indonesia tidak hanya mengalami krisis ekonomi, namun akan membuka peluang untuk krisis pendidikan, karena pungli bisa saja berakibat kepada karakter seorang pendidik berubah menjadi penjahat. Dalam bidang ekonomi, pungli hanya menguntungkan satu pihak yang memegang tampuk kekuasaan untuk meminta, dengan kata lain yang kaya makin kaya dan yang miskin bertambah miskin. Apabila ekonomi merosot dan pendidikan terpuruk, maka akan berakibat patal untuk kemajuan Negara dan Agama.
Ketika pungli semakin lihai, tidak hanya dalam ranah pendidikan, kemanapun ia merambat, pasti akan menjadi suatu keresahan masyarakat sekaligus sumber masalah yang sangat sulit, terutama untuk kaum lemah. hal ini sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, agar pungli disapu bersih dari semua instansi, baik di Instansi pemerintah maupun swasta karena pungli akan berpengaruh untuk sebuah kemajuan Negara. Pungli di Sekolah memerlukan pengawasan secara mendalam dan konprehensif, meskipun ada pungutan karena persetujuan orang tua siswa. Bagi orang tua siswa yang ekonominya kuat, ia pasti akan ikhlas untuk membayarnya karena untuk kemajuan anaknya. Namu bagi orang tua yang ekonominya lemah, pasti masalah ini akan menjadi sangat mengganjal dalam pikirannya, terutama anaknya akan minder dengan kawan-kawannya.
Sebagai kesimpulan, beragam macam pungli terjadi di Sekolah, mulai dari uang ujian, buku, wisuda, kenang-kenangan dan sebagainya, memerlukan perhatian khusus bagi pemerintah, agar pungli dibersihkan dari sekolah, terutama sekolah yang berada dalam naungan pemerintah.  Penemuan pungli di sekolah menimbulkan banyak pertanyaan, diantaranya adalah : apakah pemerintah tidak mencukupi fasilitas sekolah atau malah dana pendidikan yang diberikan Negara itu tidak sampai ke sekolah, mungkinkah oknum pejabat yang menggelapkannya, sehingga tidak bisa terlihat hasilnya. Pertanyaan-pertanyaan itu pasti bisa dijawab oleh pemberantas pungli yang sudah diamanahi Pemerintah apabila benar-benar dalam menjalankan tugasnya.  Tentu kita sangat menginginkan keputusan Perpres atau Peraturan Presiden  No­mor  87 Tahun 2016 tentang (pem­ben­tukan)  Satuan Tugas Sapu Bersih (Sat­gas Saber Pungli) segera beraksi, terutama pada ranah pendidikan.
Semoga Satgas Saber pungli lebih peduli kepada pungli pada ranah pendidikan, agar pendidikan di Indonesia bisa berjalan dengan baik, sehingga dana yang disalurkan pemerintah untuk pendidikan bisa bermanfaat untuk kemajuan Negeri yang tercinta ini. Kemudian kepada para pemimpin yang diamanahi untuk menanggung jawabi kemajuan pendidikan di Indonesia, hendaknya jangan mengotori dunia pendidikan dengan pungli, karena pungli adalah kejahatan yang sangat bertolak belakang dengan dunia pendidikan.

Sebagai saran kepada pemerintah, selain memberantas pungli di Sekolah mesti sejalan dengan pemberantasan korupsi yang dianggap sebagai pemicu terjadinya pungli. Dan salah satu usaha untuk menghentikan pungli di Sekolah, pemerintah harus melengkapi fasilitas-fasilitas sekolah dan mengutamakan kesejahteraan guru. Apabila fasilitas sekolah lengkap dan gurunya sejahtera,  maka besar kemungkinan untuk tidak terjadi korupsi dan pungli. 

Hindari Zona Nyaman menuju kemajuan karya Tantomi Simamora

Hindari Zona Nyaman Menuju Kemajuan

Sebuah motivasi yang sering disampaikan oleh atasan saya, untuk terus semangat dalam bekerja dengan cara menghindari kepuasan terhadap diri sendiri dan tidak boleh terjebak dalam satu rutinitas saja. Zona nyaman yang dimaksud disini, orang yang memiliki jiwa kemajuan akan terus memikirkan ide-ide baru dalam aktifitasnya, ia akan terus melakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kinerjanya, tidak pernah nyaman dengan sesuatu yang ia hasilkan. Jangan sampai Zona nyaman ini terpatri di dalam jiwa seseorang, karena akan mengakibatkan tidak kompetitif untuk menuju sebuah kemajuan. Zona nyaman akan membuat seseorang terlena, dinina’boboin oleh rasa kepuasan terhadap diri sendiri, karena sudah berhasil mengerjakan yang menjadi rutinitas setiap harinya. Akibatnya, pekerjaan tersebet tidak mengalami perkembangan signifikan, karena mengandalkan kebiasaan-kebiasaan lama. Tentunya, tentunya, hal ini akan sangat berpengaruh untuk kemajuan suatu lembaga atau perusahaan. Jika kita belajar dari sejarah, merek mobil 100 tahuan yang lalu tidak ada apa-apanya, jika kita bandingkan dengan mobil yang ada sekarang. Artinya setiap saat kita harus terus melakukan hal yang terbaik dalam hidup kita, baik untuk meningkatkan kualitas diri maupun perkejaan, agar dalam setiap pekerjaan itu, lebih bermakna dan bermanfaat. Kemudian dari pandangan Islam, melalui hadis nabi: “ Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik dari pada hari yang kemaren maka dia termasuk orang yang beruntung, barang siapa yang harinya sama dengan yang kemaren, dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek dari yang kemaren maka dia terlaknat. Meski hadis ini tidak bisa sebagai hujjah mengingat tentang keshahihannya di kalangan Ulama hadis, Namun ajarannya sangat bermanfaat, karena sama saja dengan hari yang kemaren, manusia sudah dikategorikan merugi, apalagi sekarang lebih buruk dari yang kemaren. Bukan lagi merugi akan tetapi sudah terlaknat sebagai manusia yang tidak menunjukkan perkembangan dalam kehidupannya. Padahal manusia itu sifatnya berkembang, dengan fasilitas-fasilitas yang dimilikinya seperti hati dan pikiran. Dari beberapa pandangan tersebut dapat kita ambil hikmah, betapa pentingnya ide-ide baru sebagai penggagas menuju kemajuan, dan untuk mewujudkan suatu kemajuan, tentu harus menghindari rasa nyamana dalam setiap pekerjaan. Paling tidak ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk terhindar dari zona nyaman menuju kemajuan. Pertama, memiliki loyalitas yang sangat tinggi, sehingga ia mencintai profesinya , dan dengan rasa cinta tersebut akan membawanya menuju kemajuan yang berkesinambungan karena selalu memikirkan ide-ide, agar nilai plusnya kian bertambah. Kedua, Selalu memperbaiki kualitas kerja. Sebaiknya kita terus melakukan metode-metode baru dalam bekerja. Tidak ada salahnya untuk melakukan hal baru dalam pekerjaan anda, walaupun akhirnya gagal, karena dari kegagalan tersebut, akan membawa kita kepada sifat kesensitifan yang akan rentan menjadi orang yang sangat kritik terhadap masalah-masalah dalam pekerjaan, bahkan dalam masalah yang ringan sekalipun, ia akan terus berpikir dan berbuat untuk yang terbaik dalam setiap pekerjaannya. Ketiga, Tidak boleh terjebak dalam satu rutinitas. Berkerja keras setiap hari memang merupakan suatu kewajiban bagi para pekerja, namun kalau pekerjaannya berputar hanya disitu-situ saja, justru hasilnya akan nihil, karena tidak ada kreatifitas baru dalam pekerjaannya. Terjebak dalam satu rutinitas merupakan masalah yang sangat urgen dalam pekerjaan, karena jebakan itulah yang akan menyebabkan seseorang lupa dan tidak kompetitif. Di era global ini, tentunya banyak hal yang harus kita pikirkan untuk sebuah kemajuan dan harus siap bersaing prestasi-prestasi yang tinggi sekalipun. Keempat, Menghindari pujian. Pada hakikatnya, pujian adalah cobaan. Jika kita terlalu nyaman dengan satu pujian orang lain, tentu akan membuat kita cepas puas dengan yang kita lakukan, sehingga ide saat itu juga terhenti untuk melakukan pemabaharuan-pembaharuan. Pujian bisa saja membuat kita bahagia, tetapi jika kita terlalu nyaman dengan pujian karena meraih satu prestasi, malah akan membuat anda tidak bahagia dan semakin tersiksa, karena anda terus berada dalam zona kenyamanan. Kelima, berpikir positif. Berusaha terus untuk melakukan hal yang terbaik untuk meningkatkan kinerja, menerima semua kritikan dan saran dari orang-orang yang ada disekitar kita, meskipun tujuannya melemahkan anda karena itu adalah pelajaran yang sangat berharga. Seperti kata pepatah yang berasal dari Minangkabau “Alam takambang jadi guru”. Makna Pepatah tersebut, agar gita belajar pada alam sekitar kita. Fenomena kehidupan sesungguhnya membawa suatu keripan, jika kita berpikir secara positif. Sebagai kesimpulan, zona nyaman merupakan hal yang paling sulit untuk kita hindari dalam kehidupan, karena hal itu bisa menjadi sebuah dilema dalam kehidupan kita, terutama dalam dunia kerja. Terlalu larut dalam zona nyaman, saat itu kita kan terhenti berpikir untuk melakukan tugas-tugas lain yang sudah menunggu. Di era globalisasai yang semakin bersaing ini, terutama dalam dunia kerja, sangat menuntut untuk memiliki cara pandang yang luas untuk menanggapi segala fenomena yang terjadi sekitar kita, karena fenomena tersebut bisa berakibat patal untuk sebuah kemajuan. Opini ini hanyalah sebagai pandangan-pandangan terhadap dunia kerja saat ini yang memerlukan pembaharuan-pembaharuan menuju profesionalisme dalam bekerja. Kemudian untuk meraih sukses, tidak hanya mengandalkan keahlian yang sudah kita miliki, tetapi harus terus belajar dan berlatih, agar keahlian itu kian bertambah dan berkesinambungan ke masa yang akan datang. Cara berpikir yang jauh kedepan merupakan salah satu cara agar terhindar dari zona nyaman menuju kemajuan.

Pemimpin Penebar Kebohongan

Pemimpin Penebar Kebohongan
Oleh:
Tantomi Simamora, S.Sos.I

Indonesia salah satu Negara Demokrasi terbear di Dunia, mayoritas beragama islam, seharusnya bisa menjadi contoh pemimpin yang mempunyai Idealisme. Namun Ironisnya, masih banyak Pemimpin yang terpilih karena uang. Selain uang, untuk meraih suara terbanyak dalam pemihihan pemimpin, sering kali menggunakan agama sebagai simbol.  Kualitas kepemimpinan yang seperti ini adalah hasil dari kebohongan apabila tidak amanah dan Tanggung jawab. Jangan pernah berharap kepada kebaikan yang hakiki, apabila usaha yang kita lakukan bercampur dengan kebohongan
Seorang pemimpin dalam menegakkan keadilan mestinya harus menghindari kebohongan, hendaknya ini bisa dipahami para pemimpin yang menginginkan keberkahan hidup, sehingga terwujud negara yang cinta akan kebenaran hakiki bukan kebenaran semu. Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Mereka akan sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh kepercayaan dari pengikutnya.
Disi lain, ada pemimpin yang sangat suka menebarkan kebohongan dengan mengatas namakan agama, berkata tidak sesuai isi hatinya, memakai simbol agama namun tak terlihat dalam dirinya pancaran dari prilaku yang agamis. Semua itu dilakukan demi kepentingan politik, agar bisa menjadi seorang pemimpin.Tentu saja hal ini akan menjadi musibah bagi suatu negeri atau terhadap orang-orang yang ia pimpin, karena semua harapan adalah harapan kebohongan.
Akan sangat mengkhawatirkan, apabila Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas islam tidak memilki aset pemimpin yang jujur,  Kondisi yang sangat memperihatinkan saat ini , korupsi dan pungli semakin merajalela, menunjukkan kebobrokan kepemimpinan, karena kerap kali  dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kemudian fenomena kehidupan saat ini, banyak yang melakukan penipuan dengan berkedok agama. Sebagai contoh kasus yang mencuat sekarang Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang diduga telah melakukan penipuan.terjadinya banyak korupsi di negara kita ini, merupakan bukti nyata bahwa Indonesia miskin pemimpin amanah.
Banyak contoh yang tidak perlu disebutkan, terkait dengan pemimpin yang terbukti melakukan kecurangan-kecurangan di negeri tercinta ini, sehingga dalam perjalanan pemerintahan, waktunya habis terkuras untuk mengatasi kasus/perkara terkait dengan pemimpin bangsa sendiri. Akibatnya, kemerosotan ekonomi, karakter tidak bisa diatasi sampai sekarang, hanya karena sifat kebohongan. Tidak kah kita melihat dalam sejarah, bahwa kepemimpinan yang jujurlah yang akan membangkitkan dunia ini kepada kebangkitan yang hakiki.
Para penebar kebohongan akan menghasilkan kekosongan, beribu janji yang  diubar tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali rasa kecewa dari orang-orang yang menjadi target pembohongan tersebut. Jika diibaratkan sama seperti sebuah bangunan yang hanya tinggal simbolnya saja, isinya sudah tidak ada, karena sudah bangkrut karena tidak ada aset lagi untuk membangunnya. jika dia menebar kebohongan dengan mengatas namakan agama, maka sama juga halnya seperti Islam yang hanya simbol atau Islam KTP, Islam hanya sebagai status saja. Maka dalam hal ini, yang menjadi aset utama dalam memimpin adalah kejujuran yang bukan hanya dari ucapannya, namun harus terwujud dalam perbuatannya.
Allah mengisaratkan kepada muslimin, agar selalu bersama orang-orang yang jujur karena jauh bermanfaat dari pada pendusta. Fenomena kehidupan yang terjadi saat ini, menunjukkan bahwa sudah menjadi kewajiban bagi negeri ini, untuk mencari pemimpin yang benar-benar jujur. Sebab kita meyakini, negeri akan aman jika dikendalikan orang-orang jujur, sebaliknya jika dikendalikan para pendusta akan membawa azab bagi negeri ini. Lazimnya negeri ini segera melakukan pembaharuan-pembaharuan baru dalam memimpin. Sejenak kita melihat sejarah, bahwa kemajuan umat islam pada masa Daulah Abbasiyah dibawah pimpinan Harul Al-Rasyid, telah melahirkan peradaban islam yang maju dan berkembang. Bahkan masa pemerintahannya, dianggap sebagai puncak kemajuan Islam atau sering disebut dengan masa keemasan Islam. Kekjujurannya dalam memimpin, ketika Yahya bin Khalid selaku yang membesarkannya di Istana, melakukan korupsi, tidak pandang bulu, beliau memberlakukan hukum sama seperti yang lainnya.
Kenapa para pemimpin yang beriman tidak pernah coba-coba untuk berbohong?. tidak ada jawaban yang lain kecuali karena mereka benar-benar yakin, bahwa sebuah kemenangan yang hakiki diperoleh dengan kejujuran yang sudah dicontohkan para nabi, sahabat sampai tabi’in. Apabila kita sudah meyakini ajaran tentang kejujuran, mestinya harus melakukan perubahan dari diri, agar menjadi orang jujur, terutama kepada generasi muda sebagai penerus bangsa ini. Kejujuran hanya bisa diraih denga hati yang bersih, ketika hati telah kosong dan dikotori oleh perbuatan-perbuatan zolim, otomatis akan merusak hati yang pada awalnya adalah suci.
Sebagai kesimpulan, Kebohongan akan menghasilkan kebohongan lain. Sebaliknya kebenaran akan meraih level tertinggi dalam kehidupan, terutama bagi para pemimpin bangsa ini, seyogianya menyadari bahw Kebenaran akan datang dari hati kecil manusia yang tidak pernah berdusta, jika hati terus diisi dengan mengingat Allah, tentunya akan mewujudkan kenyamanan. Kalau perut sedang lapar maka akan membutuhkan makan tetapi jika hati telah kosong lazimnya diisi dengan Zikir (mengingat Allah SWT).

Pemimpin yang selalu menebarkan kebohongan akan menghasilkan sesuatu yang kosong dan tidak berarti apa-apa. Apabila berharap kepada pemimpin penebar kebohongan, maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kekecewaan. Pemimpin penebar kebohongan tidak hanya berdampak negatif kepada dirinya, namun akan menjadi fitnah untuk orang lain, terutama untuk orang-orang yang ia pimpin. Yang sudah jelas dalam ajaran Islam, bahwa pemimpin penebar kebohongan sangat bertolak belakang dengan kehidupan beragama yang merindukan pemimpin yang amanah.

pemimpin Idola

Pemimpin, Harapan dan Idola

Oleh
Tantomi Simamora, S.Sos.I

Pernah terlintas dalam pikiran saya, Menjadi seorang pemimpin itu, sangat menggiurkan dan cukup menjanjikan, baik dari segi pangkat maupun penghasilan. Terlebih saat ini, menjelang Pilkada Serentak 2017 akan dilaksanakan, seorang calon kepala Daerah akan melakukan kampanye bergengsi, dalam rangka mencari simpatisan dan dukungan rakyat, agar dia terpilih menjadi seorang pemimpin, paling tidak di daerahnya. Sungguh pekerjaan yang sangat profesional dan sangat menantang. Kemudian dalam pikiran saya, keberhasilan seorang pemimpin untuk mencari dukungan tersebut, merupakan pekerjaan cukup berat, karena hanya  seketika, bisa meyakinkan rakyat untuk memilihnya menjadi seorang pemimpin.
Padahal, pekerjaan yang sangat sulit menurut penulis adalah merobah tingkah laku manusia, karena seratus manusia pasti akan berbeda-beda pikirannya. Untuk menyatukan hati manusia bukanlah pekerjaan yang mudah, memerlukan pemimpin yang benar-benar paham ilmu tentang sosial dan psikologi manusia. Lebih dari itu, seorang calon pemimpin, mesti kuasai ilmu politik yang mantap serta memberi pengaruh positif bagi Publik.
Untuk menjadi seorang pemimpin, berbagai cara dilakukan untuk mencari dukungan dari rakyat seperti terjun langsung ke masyarakat untuk mempromosikan dirinya, memberi bantuan kepada rakyat, bahkan terkadang harus dengan memberikan bayaran untuk suara rakyat. Dalam hal ini, Penulis tidak bermaksud mengungkap kasus suap, namun yang jadi sorotan disini adalah betapa sulitnya menjadi pemimpin.
Jika kita lihat dari pengkajian sejarah Islam, kondisi jaman yang sangat buruk saat itu yang dikenal dengan jaman jahilyah memerlukan seorang pemimpin untuk  memberikan penerangan yang pasa saat itu penuh dengan kegelapan. Muhammad diangkat sebagai Rasul melalui firman Allah dalam Al-Qur’an Suroh Al-‘Alaq ayat 1-5. Kalimat (Iqro’) bukanlah sekedar membaca, tetapi pada saat itu juga, Nabi Muhammad diutus untuk semua umat dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang penuh dengan keburukan.  Malaikat Jibril mengulanginya sampai tiga kali sebagai penegasan, betapa pentingnya membaca dan berpikir sebelum melakukan.
Dari kejadian itu, bisa kita ambil hikmah, betapa beratnya jadi seorang pemimpin, nabi Muhammad SAW sampai menggigil, sesaat setelah menerima wahyu tersebut. Menjadi seorang pemimpin ummat butuh pemikiran yang sangat luas, tidak hanya cerdas tetapi harus bisa menjadi contoh yang baik kepada yang ia pimpin.kemudian yang terpenting untuk diperhatikan seorang pemimpin, bahwa tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya kepada manusia, tetapi langsung bertanggung jawab dengan Rabbnya.
Meski berat menjadi pemimpin, tetapi manusia dituntut untuk  menjadi pemimpin, karena kualitas masyarakat sangat ditentukan oleh seorang pemimpin yang bisa mengendalikan sosial dan budaya dalam suatu masyarakat. Walaupun tidak bisa menjadi pemimpin orang banyak, paling tidak bisa menjadi pemimpin diri dan keluarganya.
Kepemimpinan adalah salah satu masalah yang penting dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga, instansi maupun pemerintahan. Kehadiran pemimpin akan menjadi idola dalam kehidupan, apabila dalam kepemimpinannya memiliki power yang kuat untuk memutuskan suatu kebijakan penuh dengan keadilan yaang merambat kepada semua kalangan,  mulai dari masyarakat level bawah sampai level yang paling tinggi.
Namun, saat ini kita sangat merasakan kegagalan-kegagalan dalam pemimpin, dibuktikan dengan banyaknya masalah-masalah yang tidak terselesaikan di Negeri tercinta ini, mulai dari masalah ekonomi, sosial bahkan dibidang agama sudah sangat terlalu jauh, dengan maraknya Isu Sara dan Penistaan agama. Hal ini sangat perlu untuk dilakukan kajian yang sangat mendalam, agar hal tersebut tidak tercatat dalam sejarah kemunduran Negara di  Indonesia.
Tentu kita sangat merindukan seorang pemimpin yang menjadi idola rakyat, karena dalam setiap kebijakannya selalu membawa kearifan dan kedamaian. Indonesia harus mempersiapkan generasi pemimpin yang adil pada masa yang akan datang, termasuk untuk melakukan pembinaan untuk para calon pemimpin saat ini, baik ditingkat daerah maupun Nasional, agar dalam kepemimpinannya nanti bisa membuahkan hasil yang bisa kita rasakan bersama bukan hanya untuk  sebuah kelompok.
Di Era globalisai yang serba maju ini, menunutut para pemimpin bangsa ini, agar melakukan pembaharuan-pembaharuan, mengingat banyaknya kekacauan-kekacauan yang datang dari mental-mental manusia sebagai perusak, hal itu akan mengakibatkan merosotnya ekonomi, politik,budaya maupun sosial. Sedangkan harapan dari rakyat sudah lama terpendam agar Negeri ini dilindungi oleh para pemimpin yang adil serta dalam membuat keputusan secara bijak dan tegas.
Kondisi suatu negeri akan semakin membelenggu, jika tidak hadir seorang pemimpin yang disukai rakyat karena keadilannya. Terwujudnya negeri yang aman dan sejahtera memang tidaklah pekerjaan yang mudah, perlu perjuangan yang berat dari para pemimpin bangsa ini. Tugas ini sebenarnya tanggung jawab kita semua, tetapi harus didukung oleh pemimpin baik di tingkat eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Sebagai kesimpulan, untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu hal yang mudah, karena harapan rakyat sangat besar bagi mereka, agar mampu mengendalikan negeri tercinta ini dari kekacauan-kekacauan yang mengakibatkan kemunduran. kemudian yang terpenting untuk kita ketahui, bahwa sifat pemimpin yang adil dan bijak itu datang dari kharakter seorang pemimpin yang tulus, tidak datang dari sembarang orang. Terlebih-lebih menjelang Pilkada ini, berhati-hatilah dalam memilih pemimpin, jika awalnya saja seorang  pemimpin dalam mencari dukungan memakai jalan yang salah, tentu hasilnya pasti lebih salah. Pemimpin Idola yang menjadi harapan rakyat adalah pemimpin yang mampu mewakili rakyat untuk mengemban amanah sesuai dengan bidang yang ia pimpin. Mari kita  terus berdoa , agar Negeri ini mendapat pemimpin terbaik yang mampu melakukan perubahan-perubahan, demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan rakyat.