Pendidikan Sejarah Harus Diajarkan Secara Kritis

Oleh: Tantomi Simamora Terbit di suara rakyat tapanuli 2017

Salah seorang pembicara peneliti arkeologi yang juga Kepala French School For Asian Students (EFEO)Veronique  Degroot mengatakan, pendidikan di Sekolah bukan hanya diajarkan sebagai pengetahuan. Pendidikan Sejarah juga harus dapat diarahkan untuk digunakan dalam kehidupan masa kini dengan pemikiran kritis. Dikutip dari Harian kompas edisi Rabu 24 Mei 2017.
Dengan Melihat sejarah secara terbuka, siswa akan semakin yakin dengan kekayaan alam ini, terutama Indonesia yang kaya akan hasil bumi dan memiliki peradaban yang sebenarnya sudah lama tercapai dan menggapai sebuah kemajuan. Pendidikan Sejarah, tidak hanya sekedar mendikte, namun harus mampu membawa generasi bangsa ini, lebih kritis dan mampu membaca situasi yang maju di masa depan, bahkan jika perlu, siswa diajak untuk menguji teks dalam buku sejarah.
Hakikat sejarah dalam bukunya Sartono Kartodirjo (1992) disebutkan, Sejarah merupakan peristiwa yang penting dan dapat dijadikan momentum, karena mempunyai arti dalam menentukan kehidupan orang banyak. Masa lalu bukan sekedar masa lalu, namun masa lalu yang dituliskan dalam sejarah, bisa memotivasi kita, untuk bangkit untuk melakukan perubahan. Bisa saja kita belajar dari kegagalan atau kegagalan orang lain pada masa lampau. Inti dari pembelajaran sejarah, sebenarnya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu melahirkan generasi yang cerdas, sehat, bermartabat serta mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Namun, sejarah lebih memfokuskan materinya, untuk kisah-kisah yang bermakna dan mendidik.
Berdasarkan pendapat tersebut, dengan belajar sejarah, generasi bangsa ini akan lebih paham dengan kebhinnekaan dan pancasila yang akhir-akhir ini mengalami masalah, tentu hal ini akan sangat mengkhawatirkan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak hanya itu dengan mempelajari sejarah secara kritis, tentu generasi bangsa ini juga akan lebih paham dengan manajemen pengelolaan sumber daya alam kepada yang lebih baik, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan sebagaianya, sehingga Indonesia bisa lebih maju dan mampu bersaing dengan Negara asing.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia no 22 tahun 2006 tentang standar isi yang tercantum dalam lampiran peraturan menteri, untuk satuan pendidikan dasar dan menengah dijelaskan terkait materi dan tujuan dari pembelajaran Sejarah maka mata pelajaran Sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan  dan cinta tanah air.
Dengan belajar sejarah, siswa dilatih untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis seperti: siapakah saya? Apa yang terjadi pada masa lampau sebelum saya lahir? Bagaimana saya dapat terhubung dengan masa lampau itu? Bagaimana dunia telah berubah dan bagaimana seharusnya perubahan di masa depan? Bagaimana perspektif kita tentang pengalaman hidup kita sendiri dapat dipandang sebagai bagian dari sejarah umat manusia? Bagaimana cerita personal kita merefleksikan berbagai sudut pandang dan menginformasikan ide-ide dan aksi-aksi di masa kini?
Jadi, masihkah kita mudah terprovokasi dengan berita-berita hoax? Masihkah kita menganggap mitos dan legenda sebagai fakta sejarah? Lalu untuk apa kita sekolah setinggi langit jika nalar kritis kita masih tumpul sehingga mudah dibodohi.  Belajar sejarah juga akan meningkatkan daya nalar siswa, untuk mampu memahami segala informasi yang bersifat hoax dan tidak mendidik itu.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, siswa yang ahli dalam bidang study sejarah, akan selalu menjadi tumpuan harapan bangsa untuk menjadi penggerak sekaligus menangani segala bentuk kerusakan sistem yang terjadi di Negeri tercinta ini, baik dari sisi ekonomi, budaya, sosial, politik dan ilmu pengetahuan lainnya. Siswa berprestasi akan menjadi corong untuk membangkitkan Negara pada saat mengalami keterpurukan. Maka sangat wajar kalau Pemerintah terus menggali potensi para peserta didik di Indonesia, dengan meningkatkan metode pembelajaran sejarah di Negeri tercinta ini.

Terlebih kepada Lembaga Pendidikan, baik Sekolah maupun perguruan tinggi sebagai wadah utama untuk mencerdaskan generasi bangsa, hendaknya mampu untuk membangkitkan nilai-nilai sejarah dalam kehidupan ini. Paling Tidak, Sekolah bisa menghasilkan bibit unggul yang akan menghasilkan generasi yang mampu untuk mengukir sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, baik di tingkat lokal, Nasional maupun internasional. Demikian juga bagi para orang tua dalam mendidik anaknya, didiklah dia dengan sejarah dengan cara membiasakan kehidupan aturan lama. Contohnya: banyak anak jaman sekarang yang masih duduk di tingkat Sekolah Dasar dan menengah, diberi fasilitas oleh orang tua berupa Hp dengan koneksi internet, kenderaan serta barang mewah lainnya yang kurang mendukung untuk perkembangan sikologi anak. Jika dari kecil sudah dibiasakan hidup mewah,akan susah sekali nanti anak merubah kebiasaannya. Terlebih anak zaman sekarang yang hidup dalam arus informasi yang semakin tak terbendung, siswa harus ditingkatkan lagi tarap pemikirannya, untuk menelisik makna visual yang tidak mendukung untuk pendidikan karakter anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar