Ijazah Palsu Menghambat Kemajuan Pendidikan

Oleh: Tantomi Simamora terbit di suara rakyat tapanuli tahun 2017

Kementerian Riset Tekhnologi dan Pendidikan (Kemristekdikti) menyatakan menerima 141 laporan masyarakat terkait kasus ijazah palsu yang melibatkan Kepala Daerah, Anggota DPRD dan aparatur sipil Negara sepanjang tahun 2016 sesuai dengan pemberitaan Rakyat Tapanuli, edisi 03 februari 2017. Walaupun hasilnya hanya 90 % dari 141 orang yang terjerat dalam ijazah palsu itu, tetap saja masalah ini adalah masalah yang tidak bisa dianggap remeh, karena ijazah palsu akan melahirkan kepalsuan-kepalsuan yang berujung kepada kemunduran dalam dunia pendidikan.
Ijazah palsu merupakan dari kebobrokan dari administrasi Lembaga Pendidikan karena SDM nya tidak memiliki profesionalisme dalam bertugas, bahkan ijazah palsu akan membuka peluang bagi orang-orang yang memiliki mental perusak, selain sebagai perusak administratif juga perusak sistem pendidikan. percuma saja belajar di lemabaga pendidikan, apabila dalam suatu lembaga tidak melahirkan kejujuran.
Jika ditinjau dari pandangan Islam, ijazah palsu merupakan kebohongan karena tidak sesuai dengan kenyataannya. Pada saat manusia tidak bisa menerima kenyataan biasanya orang tersebut akan lari dan tidak bertanggung jawab. Bahkan ijazah palsu juga termasuk bagian dari orang yang munafik, karena salah satu tanda orang yang munafik itu adalah berdusta. Biasanya ijazah palsu tersebut digunakan untuk satu kepentingan. Dugaan terbanyak dalam pemanfa’atan ijazah palsu. Tidak hanya sekedar urusan administrasi saja, namun lebih banyak digunakan untuk kepentingan satu bidang pekerjaan yang membutuhkan kepada jurusan tertentu, karena tidak memiliki ijazah yang diisyaratkan, maka ia berupaya untuk membeli ijazah palsu.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah, bagaimana kalau seandainya ijazah palsu digunakan untuk persyaratan sebagai pemimpin, tentu secara tidak langsung lembaga pendidikan yang memberi fasilitas untuk membuat ijazah palsu telah melahirkan para pembohong dan pembohong berikutnya. Sebagai tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, apakah tidak pernah merasa berdosa melakukan pemalsuan ijazah?
Ijazah palsu tidak hanya melahirkan kejahatan, tetapi akan mendarah daging kepada generasi bangsa ini, terlebih orang tua yang mendapat pekerjaan atau rezeki dengan memakai ijazah palsu. Bukan untuk menggurui, namun kita semua paham apa dampak dari modal palsu yang melahirkan kepalsuan hidup. Tentu ini akan menjadi renungan terpenting bagi kita sebagai manusia yang ta’at beragama.
Lembaga Pendidikan sejatinya memiliki marwah tertinggi dalam mewujudkan manusia yang berkarakter, namun apabila sertifikat yang dikeluarkan Sekolah tidak lagi bisa dijadikan sebagai ukuran kemampuan, lalu dengan lembaga apa lagi bisa mengukur kemampuan generasi bangsa ini. Ijazah palsu telah membawa dunia pendidikan kepada keborokan, bahkan ada yang berpendapat bahwa ijazah tidak akan mampu bekerja secara profesionalisme. Mental yang dinilik para pemilik ijazah palsu merupakan mental para pecundang yang tidak berani bergerilya dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
Lebih dari itu, ijazah merupakan tahap akhir dalam proses belajar mengajar, pada saat ijazahnya palsu, berarti selama dalam proses belajar mengajar, baik di tingkat sekolah rendah, menengah maupun perguruan tinggi telah mengeluarkan produk-produk palsu yang sudah pasti akan berdampak buruk terhadap kualitas pendidikan, karena telah memalsukan produk yang sebenarnya tidak mampu. Maka menurut penulis, fenomena ijazah palsu, mesti dibumi hanguskan dalam dunia pendidikan karena sangat bertolak belakang dengan tujuan pendidikan secara nasional.
Tentu kita tidak menginginkan, generasi bangsa ini lahir dengan segala kepalsuan. Mungkinkah sebagian para pemimpin bangsa ini memiliki ijazah palsu? Jika iya, apa antisifasi yang dilakukan oleh pemerintah dan bagaimana caranya menghilangkan praktek-praktek pembuatan ijazah palsu? Pertanyaan ini bukan hanya bagi para pemimpin bangsa ini, tetapi lebih khusus kepada para generasi bangsa ini, agar dalam meraih karir atau prestasi kerja tidak menggunakan kepalsuan, tampillah apa adanya dan terus berbuat yang terbaik, karena pada hakikatnya yang diharapkan bangsa ini adalah generasi yang jujur dan berkarakter.
Disisi lain, fenomena ijazah palsu juga merambat kepada kalangan bawah atau orang-orang yang hidup dalam tarap kemiskinan, jika ijazah palsu terus marak di Negeri tercinta ini, maka orang yang akan mendapatkannya adalah para elite atau orang kaya, karena maraknya ijazah pals, terkait dengan dana untuk membeli ijazah tersebut dan orang yang akan mengenyam pendidikan teratas tetap saja orang yang kaya yang tidak profesional.
Data yang didapatkan oleh Kemristekdikti tersebut menunjukkan, bahwa praktek pembuatan ijazah palsu sudah berjalan lama di Indonesia, maka penting sekali bergotong royong untuk sama-sama memberantas ijazah palsu, tidak hanya Pemerintahan pusat, Pemerintahan daerah pun harus turut andil, agar Indonesia bersih dari pola pendidikan palsu yang melahirkan produk-produk palsu. Kemudian dalam memberantas ijazah palsu juga harus didukung oleh masyarakat, karena terkadang justru individu-individu dalam masyarakat sering mengundang untuk membuatan ijazah palsu, dengan memberikannya imbalan yang menggiurkan petugas, maka ijazah dipalsukan dengan desain yang penuh kepalsuan.

Dan yang tidak kalah pentingnya, Pemerintah perlu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa pendidikan adalah tahap proses belajar yang membutuhkan perjuangan yang berat, jadi ketika ijazah dipalsukan, maka orang-orang yang profesional akan kehilangan jati dirinya, karena karir tidak bisa diukur dengan skil atau keahlian tetapi adalah uang untuk membeli ijazah palsu. Jika kondisinya seperti ini, maka kemajuan pendidikan yang telah menjadi impian seluruh bangsa ini, tidak akan terwujud dan akan terus mengalami kemunduran.

LGBT Dan Tantangan Pendidikan Islam

Oleh: Tantomi Simamora terbit di harian waspada medan tahun 2017

Gaya hidup manusia yang tidak menentu saat ini, membuat generas bangsa ini sukar untuk memahami makna yang terselubung dalam sebuah prilaku yang menyimpang, karena derasnya arus budaya yang tidak mendukung untuk pendidikan karakter. 141 orang kaum Gay (LGBT) menggelar pesta seks di sebuah ruko di kawasan kelapa gading, Jakarta Utara, digrebek aparat kepolisian , dari 141 gay tersebut 10 orang ditetapkan sebagai tersangka dilansir dari pemberitaan Harian Waspada edisi selasa 22 Mei 2017.
Tiba-tiba saja pemberitaan ini menjadi viral di publik, bahkan banyak orang-orang yang berkomentar, baik di media massa maupun elektronik. Jika ada orang yang berusaha untuk melindungi homoseksual, berarti kita sebagai Ummat Islam berhak untuk menolak perbuatan yang sangat menjijikkan itu, karena dalam ajaran agama Islam, prilaku tersebut merupakan prilaku yang mengingkari fitrahnya manusia, sehingga wajar saja, kalau ummat Islam tidak menerima prilaku tersebut.
Lesbiyan, gay , biseksual dan transgender (LGBT) yang telah dihalalkan pernikahannya dibeberapa negara barat, secara tidak langsung sudah menjadi beban berat para pendidik Negeri ini, karena sudah banyak ilmu pegetahuan yang mengatakan, bahwa homoseksual adalah penyakit yang menular dan menyalahi fitrah manusia. Maka besar sekali harapan kepada Pemerintah, agar terus menjadikan masalah ini sebagai bahan evaluasi dalam membina karakter bangsa ini sekaligus meingkatkan upaya penyedaran manusia tentang bahaya seks bebas.

Kemudian bagi para ahli ilmu pengetahuan, terutama di bidang psikolog dan Psikiater, agar terus berupaya semaksimal mungkin untuk membangun klinik khusus untuk mengantisifasi perbuatan yang sangat menjijikkan itu, sehingga tidak sampai merambat pada dunia anak-anak yang sudah pasti merusak mental mereka. Dan dalam mengantisifasi perbuatan tersebut, meski didukung oleh semua orang tua dan tenaga pendidik, indikatornya dalam agama Islam hanya satu yaitu beribadah kepada Allah SWT dan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Semoga Allah senantiasa melindungi kita, keluarga dan bangsa ini, agar tetap pada fitrah manusia yang diciptkan oleh Allah SWT.

Islam Itu Tinggi

Oleh Tantomi Simamora terbit di harian dnpportibi july 2017

Agama yang paling diridhai Allah SWT adalah Islam, dan telah terbukti kebenarannya melalui Al-Qur’an dan hadis,  sebagai sumber dari ajarannya. Islam sesuai dengan perkembangan zaman, walau sebagian menganggap tidak demikian, namun nyatanya Islam banyak memberikan kontribusi terhadap kemajuan zaman ini. Islam telah membuktikan pada dunia, bahwa keberadaannya sangat mempengaruhi peradaban dunia, terbukti dengan kemajuan Daulah Abbasiyah dan Dinasti umayyah di Spanyol.
                Islam adalah agama yang sangat tinggi nilainya, tidak bisa digantikan dengan harta, kedudukan maupun jabatan, terbukti ketika orang-orang kafir Qurays masa jaman jahilyah, yang selalu ingin menghalangi dakwah nabi Muhammad SAW untuk menyiarkan islam di Mekkah, mereka tidak pernah berhenti untuk menghalangi dakwah nabi Muhammad SAW dengan cara mencaci, mengancam, melempari dengan kotoran, bahkan beniat untuk membunuh nabi Muhammad, tetapi tidak berhasil.
                Tidak hanya itu, pada saat mereka tidak berhasil menghalangi dakwah nabi Muhammad SAW, mereka mencoba untuk membujuk nabi dengan harta, kedudukan, wanita dan jabatan, namun semua usaha orang-orang Qurays tetap saja tidak berhasil. Kejadian ini menunjukkan, bahwa Islam adalah agama yang sangat berharga dan tidak bisa dibandingkan dengan kemewahan dunia yang sifatnya sementara. Sementara agama adalah untuk kepentingan dunia dan akhirat.
                Islam adalah agama aqidah, memancarkan cahaya iman yang menerangi orang-orang yang tulus dan murni. Islam tidak menghendaki orang-orang zolim. Islam tidak pernah mundur selagi masih didasari dengan aqidah yang mantap, bahkan akan mewujudkan kekuatan yang luar biasa yang tak pernah kita duga. Contoh pada saat terjadinya perang badar, pasukan umat islam hanya berjumlah tiga ratusan melawan pasukan kafir Qurays kurang lebih seribu orang, jumlah yang sedikit dibandingkan kafir qurays, tetapi tetap saja perang itu dimenangkan oleh umat Islam.
                Kemenangan umat Islam pada perang badar menimbulkan dampak positif terhadap agama Islam, umat islam saat itu, semakin solit karena merasakan langsung pertolongan Allah SWT. Namun bagi orang kafir Qurays yang kalah dalam perang tersebut, mereka tidak habis pikir dengan kekalahan mereka. Setahun kemudian, mereka ingin membalas dendam kekalahannya dengan mempersiapkan pasukan yang lebih banyak lagi. perang tersebut terjadi di Bukit Uhud. Pasukan Qurays berjumlah 3000 orang melawan pasukan muslim berjumlah 1000 orang.
                Terjadinya perang Uhud, dengan persiapan umat Islam, awalnya dimenangkan umat Islam tetapi akhirnya mengalami kekalahan, karena umat Islam tidak patuh kepada strategi perang yang di susun oleh Nabi Muhammad SAW. Kekalahan umat islam pada perang Uhud menggambarkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah mengalami kemenangan, apabila tidak disertai dengan kesatuan dan aqidah yang kuat untuk mengimani Allah dan Rasulnya.
                Meskipun Umat Islam kalah dalam perang tersebut, tetapi dalam prinsip Islam, justru akan meninggikan derajat orang-orang yang mati syahid pada perang tersebut, menjadi para ahli surga yang belum tentu didapatkan oleh orang-orang yang beragama Islam saat di Dunia. jadi tidak ada kalah dalam prinsip Islam, berjuang terus untuk membela kebenaran.
                Nabi Muhammad dalam memperjuangkan agama islam, penuh dengan perjuangan yang sangat berat untuk menegakkan kebenaran Islam. Meskinya umat Islam menyadari, bahwa untuk meninggikan agama Islam itu, dilakukan oleh umatnya sendiri yang terus berjuang menegakkan kebenaran Islam, namun harus didasari dengan iman yang kokoh.
Menjadi pimpinan Islam memang bukanlah hal yang mudah, bagaikan memegang bara api, apabila kita pegang pasti terasa panas. Tetapi apabila kita lepas, maka akan terbakar. kemajuan umat Islam sangat tergantung kepada pemimpin Islam. Apabila para pemimpin Islam tidak sungguh-sungguh dengan keimanannya dalam memerintah, maka umat Islam akan terbakar dan hancur di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tingginya derajat agama Islam, sehingga memerlukan pemimpin yang tinggi keimanannya, agar Islam dan Iman seimbang dalam menerangi jiwanya. Dalam memimpin tentunya memiliki kesungguhan untuk menegakkan Agama Islam di muka bumi ini. Pancaran cahaya iman tentunya mampu menyinari dunia yang sedang dalam kegelapan.
Sebagai kesimpulan, Keridoan Allah SWT kepada Agama Islam, agar umatnya senantiasa meninggikan agamanya dengan kekuatan iman serta mengamalkan ayat-ayat Allah,  maka akan berujung kepada kemaslahatan Umat Islam. Kepada para pemimpin islam, terutama di Negeri tercinta ini, kobarkan terus semangat menuju kebenaran Islam. Sebagai agama tertinggi, sebenarnya Islam tidak pernah menghendaki adanya peperangan, karena agama Islam sangat cinta dengan kedamaian. Perang dalam versi Islam tidaklah bertujuan untuk membunuh manusia sebanyak-banyaknya, namun tujuannya adalah dakwah. Tidak benar, kalau ada yang mengatakan, Islam itu keras dan kejam. Bandingkan strategi perang pada jaman Nabi Muhammad SAW dengan Perang Dunia pertama dunia kedua. Berapa orang yang tewas pada perang badar dan perang dunia pertama dan kedua.
Agama islam adalah agama yang damai dan diperuntukkan untuk semua manusia dan makhluk, tidak hanya untuk umat islam, namun berlaku untuk semua yang ada di langit dan di bumi, sesuai dengan Misi nabi Muhammad SAW untuk menyiarkan islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi Seluruh alam). Agama Islam adalah agama yang damai, penuh dengan kasih sayang dan kedamaian melalui sifat Allah Ar-Rahman dan Ar-Rohim. Firman Allah dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya agama yang diridhai Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara mereka. Barang siapa yang inkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungannya.

(Q.S Ali Imaran/3 ayat 19)

Peredaran Narkoba Merusak Generasi Bangsa

Oleh: Tantomi Simamora terbit di metrotabagsel edisi 25 july 2017

“Pasca Hari Anti Narkotika Internasional (HANI), Memerangi narkoba Jangan hanya sekedar serimonial, karena akan berdampak negatif kepada generasi bangsa ini”

Peredaran narkoba saat ini semakin menggelora, terus mengintai para generasi bangsa ini, dengan berbagai cara yang dilakukan, mulai dari hal yang biasa sampai kepada luar biasa, sehingga para petugas yang diamanahkan untuk mengintai peredaran narkoba tersebut, merasa kesulitan. Bahkan terkadang dengan menggunakan simbol dan kelemahannya sendiri untuk mengedarkan narkoba yang sangat berbahaya itu, seperti perempuan hamil dan orang cacat dan sebagainya. Jika hal ini terus dibiarkan, seiring dengan berjalannya waktu, generasi bangsa ini akan punah dengan sia-sia. Dilansir dari Kompas.com (18/07/2017), Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Arman Depari menyebut peredaran narkoba di Indonesia semakin marak. Arman mengetakan hal itu berdasarkan data pengungkapan kasus oleh aparat gabungan dan profil pelaku yang diamankan."Modus operandi dan pelaku-pelaku yang terlibat di dalam peredaran narkoba ini semakin hari kelihatannya semakin canggih, beragam, dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat," kata Arman, dalam konferensi pers di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (18/7/2017). Keterangan selanjutnya dikatakan, "Salah satu modusnya adalah menyembunyikan narkoba di dalam sepatu. Juga di Palembang, menyembunyikan narkoba yang akan dibawa ke Batam, dicampur dengan buah-buahan dan makanan-makanan ringan".
                Kenyataan ini memang sangat pahit, jika kita telusuri, peredaran narkoba saat ini menjadi satu tantangan yang begitu berat untuk dihadapi bangsa ini, terlebih generasi bangsa yang menjadi target utama peredaran narkoba yang kian menganga. Kita yakin sepenuhnya kepada Tim SAR BNN ( Badan Narkotika Nasional), perjuangan mereka sudah dapat terlihat, namun persoalan narkoba tidaklah bisa diselesaikan dengan sepihak saja, meski didukung oleh semua pihak, baik pemerintahanan maupun masyarakat, terutama kepada lembaga pendidikan yang menjadi wadah utama dalam pembentukan karakter peserta didik, sejatinya harus memerhatikan perkembangan anak kekinian.
                Penyalahgunaan narkoba oleh para pelajar dipengaruhi oleh banyak faktor, (seperti yang di ungkapkan dalam buku Yatim, 1991).” Faktor penyebabnya yaitu kepribadian, mayoritas pemakai narkoba mempunyai kepribadian yang lebih tertutup dibandingkan dengan bukan pemakai narkoba. Selsin itu orang yang berkepribadian lemah, mudah kecewa, dan tidak mampu menerima kegagalan, maka kemungkinannya untuk tergelincir menjadi pemakai akan lebih mudah dibandingkan orang orang yang mempunyai kepribadian kuat, tahu mana yang benar mana yang salah, berani mengatakan tidak, dan tidak tergantung pengaruh orang lain”.
Faktor utama yang menyebabkan para pelajar menyalahgunakan narkoba yaitu kurangnya landasan agama di dalam keluarga, sehingga iman kurang teguh dan mudah tergiur untuk menggunakan narkoba. Semua agama mengajarkan pemeluknyan untuk menghindari kerusakan, baik kerusakan bagi dirinya, keluarganya dan lingkungannya, terlebih dari pengaruh lingkungan sekitar, karena pada awalnya para pelajar hanya ingin coba-coba saja, yang berawal dari coba-coba tersebut sehingga para pelajar tersebut menjadi pecandu narkoba. Mereka ingin diakui atau diterima dalam kelompoknya, sebagai contoh ada sekumpulan orang atau genk yang di dalamnya adalah para pengguna narkoba, sehingga mereka mencoba menggunakan narkoba agar diterima di dalam anggota tersebut.
Peredaran narkoba yang terus mengintai generasi bangsa ini, menunjukkan, bahwa peredaran narkoba  sudah berjalan lama di Indonesia, maka penting sekali bergotong royong untuk sama-sama memeranginya, tidak hanya Pemerintahan pusat, Pemerintahan daerah pun harus turut andil, agar Indonesia bersih narkoba sebagai penyakit sangat berbahaya dan berjangkit kepada genarasi selanjutnya. Kemudian dalam memerangi narkoba juga harus didukung oleh masyarakat, dan tidak menutup-nutupi peredaran narkoba, dengan demikian, peredaran narkoba terminimalisir, sehingga dengan mudah dipantau oleh para petugas yang diamanahkan pemerintah seperti BNN (Badan Narkotika Nasional). Pemerintah juga sejatinya, memberikan penyuluhan kepada orang-orang yang sudah terlanjur memakainya, dengan pendekatan-pendekatan yang lebih efektif, menyesuaikan dengan kondisi yang dialami orang yang terlanjur memakainya. Terutama dalam pendekatan secara agama, karena dengan pendekatan agama, akan menjadikan setiap manusia sadar dan kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang bersih dari segala keburukan.

Dan yang tidak kalah pentingnya, Pemerintah dan para pegiat pendidikan Negeri tercinta ini, perlu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan generasi bangsa ini, bahwa narkoba adalah zat yang sangat berbahaya serta memperbanyak penyuluhan kepada masyarakat, dengan pendekatan edukatif yang dilengkapi dengan media yang tepat untuk masyarakat, karena tindakan untuk memerangi narkoba saat ini, tidak lagi bisa dengan metode yang biasa-biasa saja, mesti dengan tindakan yang luar bisa dan pembaruan-pembaruan, agar peredaran narkoba segera bisa dibersihkan dari Negeri tercinta ini. kemudian tidak kalah pentingnya kepada para orang tua, agar terus meningkatkan pengontrolan terhadap anaknya, dan tidak membiarkan anaknya bergaul secara bebas,karena pergaulan anak kekinian semakin tak menentu. 

Sertifikasi Guru Dalam Harapan

Oleh: Tantomi Simamora terbit di suara rakyat tapanuli edisi 25 july 2017

Pemerintah perlu untuk terus melakukan evaluasi dan tindakan yang cerdas dalam menjalankan program sertifikasi guru, dengan sistem yang efektif namun memberikan keadilan kepada para Guru-Guru yang telah benar-benar profesional dalam proses belajar mengajar. Sertifikasi Guru memang saat ini telah menjadi pro-kontra dalam dunia pendidikan. Fenomena pembayaran sertifikasi guru semakin membelenggu di hati para Guru, acap kali kita dengar di berbagai wilayah di Indonesia pembayarannya yang sering terlamabat, seperti informasi yang dilansir dari Sindonews.com edisi 7 Juni 2017, sekitar 1500 guru honorer di Kab. Ciamis melakukan aksi longmarch ke Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kab. Ciamis. Kadatangan guru tersebut guna meminta kejelasan terkait sertifikasi yang belum Cair swlama 7 bulan di tahun 2015 dan 5 bulan di tahun 2017. Para guru honorer meminta agar Kantor Kemenag Ciamis mendorong kepada pemerintah pusar dalam hal ini Kementerian Agama supaya dana Sertifikasi untuk para guru di bawah Kemenag segera cair.
Begitu besar harapan para guru, agar pencairan sertifikasi guru cepat dikeluarkan, namun fenomena ini lazimnya tidak hanya sekedar untuk meminta haq, tetapi harus menyadari adanya kewajiban yang berat untuk memangku beban profesionalisme guru. Maka kepada Kemendikbud Muhadjir Efendy, agar ke depan terus melakukan pembaharuan terhadap program sertifikasi guru, sehingga guru tidak hanya bisa menuntut pencairan tetapi harus menjalankan profesinya dengan baik dan benar. Terlebih dengan kemajuan pendidikan di Indonesia, juga dirasakan oleh guru-guru honor yang gajinya di bawah rata-rata serta Guru yang mengajar di daerah pedalaman, agar pemerataan Pendidikan berjalan dengan baik.  Terlebih di tahun 2017 ini sesuai dengan informasi dari beberapa media, Pemerintahan Jokowi akan melakukan perombakan secara besar-besaran dalam dunia pendidikan. Jadi saran penulis, agar dalam hal tunjangan kesejahteraan guru bisa diberikan secara adil serta menjadikan fenomena ini sebagai salah satu dari pemerataan pendidikan di Indonesia. Guru yang sudah tersertifikasi, Guru honorer  serta Guru yang mengajar di daerah pedalaman sama-sama dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar, serta memiliki fungsi dan tanggung jawab yang sama berat, selain membimbing dan mengarahkan peserta didik, juga diliputi dengan tugas-tugas seperti prosem dan prota dan lain sebagainya. Paling tidak mereka bisa dihargai sesuai dengan keberagaman kerja sebagai profesi Guru dalam dunia pendidikan.
Dan sejatinya, pada zaman yang semakin maju ini, lembaga pendidikan sejatinya melakukan pembaharuan-pembaharuan untuk menempatkan prestasi siswa dan Guru sebagai posisi terdepan dengan berharap sepenuhnya kepada Pemerintah, terutama Kemendikbud Muhadjir Efendy, agar ke depannya segera melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan dan memberikan penghargaan dan kesejahteraan kepada Guru yang benar-benar mampu mendidik yang diukur dengan ujian kelayakan yang dilakukan secara adil dan merata tidak berdasarkan sertifikat belaka. Bila dikembalikan pada tujuan awal diselenggarakannya program ini,  banyak harapan pemerintah kepada program sertifikasi guru yang harus dijalankan sebagai guru, maka sebagai seorang guru, hendaknya dapat memahaminya dengan baik dan penuh kesadaran.
Sertifikasi guru adalah sebagai sebuah sarana untuk mencapai tujuan yaitu kualitas dan profesionalitas guru. Sertifikasi guru bukan hanya sekedar materi, harus dibarengi dengan Kesadaran dan pemahaman yang benar akan hakikat dalam tujuan pendidikan. Para guru perlu menyadari bahwa tuntutan profesionalitas itu membutuhkan kerja keras, terutama dalam aktivitas mengajar, menggali informasi dari berbagai sumber, dan memodifikasi aneka strategi kreatif belajar-mengajar. Guru juga harus terus belajar (bukan hanya mengajar) agar dapat selalu meng-upgrade pengetahuannya sehingga dapat mengikuti dan menyiasati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peluang pemanfaatannya untuk memajukan proses belajar mengajar di kelas. Sertifikasi guru hendaknya menjadi suatu bentuk serta wujud totalitas dan kesungguhan guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Guru tidak hanya cukup sekadar datang, mengajar, lalu pulang. Idealisme, semangat, dan kinerja yang tinggi disertai rasa tanggung jawab mesti menjadi ciri guru yang profesional. Bila sudah demikian, harapan akan terwujudnya kualitas pendidikan Indonesia yang maju bukan lagi impian, secara otomatis akan mengalami kemajuan yang berkesinambungan dan mampu bersaing dalam skala nasional maupun internasional.

Ujung-ujungnya kembali  menyarankan kepada Pemerintah, agar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, mengadakan pembaruan sistem dan metode yang didukung dengan pengawasan yang intensif di Sekolah, baik di pusat maupun di daerah.   Dan dalam pelaksanaannya, sebaiknya bisa mendukung untuk finansial Guru berdasarkan kebutuhannya untuk mendukung proses pembelajaran di kelas. Kemudian dalam rangka belajar bagi Guru, berharap kepada pemerintah agar menyediakan fasilitas yang cukup untuk mengadakan pelatihan-pelatihan Guru di setiap lembaga pendidikan di Negeri tercinta ini, sehingga nawacita pendidikan pemerint akan melakukan perombakan sistem pendidikan secara besar-besaran di Indonesia, semoga programahan Jokowi yang dilengkapi dengan program-program unggulan pemerintah lebih memperhatikan pedidikan dan guru yang benar-benar profesional. Semoga Pendidikan di Indonesia semakin maju dan terus melakukan pembaharuan-pembaharuan untuk kemajuan. Kemudian dalam meneruskan program sertifikasi Guru, hendaknya Pemerintah tidak mempersulit, baik dalam hal administrasi maupun insentifnya untuk menunjang majunya pendidikan di Indonesia.

Bodoh Dalam Hal Agama

Oleh Tantomi Simamora terbit di harian issue waspada medan 13 januari 2017

“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah).” (Q.S Al-An’am/6: 116).

Islam adalah agama yang sesuai dengan perkembangan zaman, tat kala umatnya tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, maka umat Islam akan menjadi bahan olol-olokan karena tidak mampu membangkitkan agamanya yang seharusnya terpatri di dalam jiwanya. Umat Islam saat ini banyak dihadapkan dengan berbagai ujian yang datang dari orang-orang yang tidak senang dengan kemajuan Islam, mulai dari pelecehan, pelemahan budaya Islam, bahkan sampai kepada penistaan agama yang menjadai trending topic saat ini.
Sepertinya Umat Islam harus cepat-cepat bangkit untuk meningkatkan tarap pemikirannya, terutama dalam menghadapi opini-opini yang bertujuan untuk menyudutkan Islam. Di era Globalisasi ini, umat Islam dituntut untuk bergerilya dan aktif di Media Sosial  untuk memenangkan perang opini, dengan mengundang umat Islam sebanyak-banyaknya dalam tujuan yang sama. Sebagai umat Islam tentu sudah menjadi suatu kewajiban, agar menolong para pimpinan Islam dari segala penjuru. Perang opini melalui medsos saat ini tidak bisa dianggap remeh, karena apabila umat Islam tertinggal, maka umat Islam akan lemah karena lari dari arena perang yang sebenarnya, bahkan bisa saja opini publik berbalik menyerang umat Islam.
Contoh kasus aliran dana GNPF MUI dan Sari Roti, telah menjadi bahan pembicaraan para netizen. Apabila umat Islam tidak paham dengan  informasi yang sebenarnya, malah akan menjadi opini pelemahan kepada para pemimpin Islam. Hingga saat ini, Perang pemikiran (Ghazwul Fikri) sangat gencar, terutama pada tingkat pemuda yang menjadi generasi bangsa.  Umat Islam harus benar-benar waspada pada rantai-rantai pelemahan pimpinan Islam.
Agama Islam tidak hanya mengkaji rutinitas ibadah, namun harus mengkaji secara keseluruhan, termasuk dalam urusan politik. Apabila umat Islam tidak mengikuti perkembangan politik, maka suatu saat nanti kita akan dipimpin oleh orang-orang diluar dari agama Islam yang berujung kepada kemunduran kemaslahatan ummat. Jika kita melihat sejarah kemunduran Dinasti Umayyah di Spanyol, salah satu yang menyebabkan kemundurannya adalah karena bodoh dalam hal agama, pengaruh umat Islam digantikan dengan pengaruh Nasrani yang menggerogoti para pemimpin Islam. Kemajuan umat Islam saat itu menitik beratkan kepada kemajuan militer, sehingga kemajuan Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah terkikis oleh waktu, karena umat Islam tidak lagi serius memperhatikannya.
Berdasarkan masalah tersebut, setidaknya bisa menjadi kaca perbandingan bagi kita, agar dalam mengikuti perkembanan jaman ini, terutama dalam hal kepemimpinan, mesti dengan ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan aqidah yang benar, karena umat Islam tidak akan pernah maju apabila tidak kembali kepada aqidah Islam yang hakiki. Kekuatan aqidah memiliki kekuatan yang luar biasa karena mendapatkan keridoan dari Allah SWT.
Cinta akan dunia juga telah membawa manusia ke alam kebodohan, sehingga umat Islam terlena dan dinina’boboin oleh Zaman yang penuh dengan fitnah. Padahal apabila kita terus mengejar dunia maka dunia pun akan menjauh, tetapi apabila kita mengejar akhirat, secara otomatis dunia akan mengikut dengan kita. Semangat dalam mengejar dunia, jangan sampai melupakan akhirat, karena pada hakikatnya, itulah yang membuat Umat Islam semakin bodoh karena melupakan landasan dari ajaran agama Islam yang sebenarnya, termasuk dalam perayaan Tahun baru yang sebentar lagi dilaksanakan. Kebodohan dalam agama ditandai dengan kegiatan Umat yang melakukan gaya hidup hura-hura pada saat perayaan Tahun Baru, karena lalai dalam urusan dunia, bukankah tidak sebaiknya pada saat Tahun baru, kita harus banyak melakukan intropeksi diri dengan amalan yang sudah kita capai pada tahun sebelumnya dan lazimnyalah sebagai orang muslim banyak berzikir untuk mengingat Allah serta berdoa, agar kedepan mendapat kebaikan yang lebih dari sebelumnya.
Namun tidak sedikit diantara umat islam, demi mendapatkan dunia, tidak sedikit diantara manusia yang melakukan hal-hal yang paling bodoh dalam agama. Mereka berani menutupi kebenaran yang sesungguhnya justru akan membawa dirinya kepada derajat yang paling hina dalam pandangan agama. hal inilah sebenarnya yang perlu dimusnahkan dari muka bumi ini, agar dalam perjalanan pemerintah yang adil bisa berjalan dengan baik.
Seharusnya umat Islam tidak pernah tergoda dengan rayuan materi apapun, berapa pun jumlah uang dari cukong, karena aqidah tidak untuk digadaikan dan iman tidak dapat dijual belikan. Terbukti pada zaman nabi Muhammad SAW, ketika Utbah ibnu Rabiah diutus oleh orang kafri qurays untuk membujuk nabi Nabi Muhammad SAW dengan harta, kedudukan dan jabatan, agar menghentikan dakwahnya, Rasululloh tidak mau dan menolak bujukan tersebut, karena dunia hanyalah sementara dan tidak akan menjamin kehidupan di akhirat.
kecerdasan umat Islam tidaklah diukur dari berapa banyak ilmu yang ia miliki, namun seberapa banyak ia mengamalkan ilmunya dalam kehidupannya sehari-hari. Umat Islam yang cerdas adalah Umat yang terus melakukan pembaharuan-pembaharuan untuk menggapai sebuah peningkatan tarap pemikiran yang dilandasi dengan aqidah yang murni dan tulus karena mengharap ridonya Allah SWT.  Begitu juga sebaliknya, umat Islam yang bodoh adalah ketika ia tidak mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya dan memiliki tarap pemikiran yang rendah karena tidak didasari dengan aqidah yang hakiki.
Kebanyakan manusia yang tidak pro dengan Islam akan melakukan banyak hal untuk melemahkan keimanan umat Islam seperti yang pernah dihadapi nabi Muhammad SAW. Maka umat Islam dalam semua aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik maupun budaya harus mampu mengimbangi perkembangan zaman ini. Sebagai agama yang kuat dalam semua zaman, mestinya bisa lebih mampu untuk mempertahankan kekuatannya, tidak hanya dalam bidang ibadah saja, namun harus merangkum semua ilmu, termasuk yang paling penting adalah masalah kepemimpinan.

Sebagai kesimpulan, perang yang dihadapi umat Islam saat ini bukanlah perang fisik seperti pada zamannya Nabi, tetapi perang dalam pemikiran. Umat Islam dituntut untuk mampu dalam segala hal masalah yang menimpa Negeri tercinta ini. Jika umat Islam diperlukan untuk bergrilya dalam dunia Medsos, kenapa tidak? jihad fi sabilillah tidak hanya diperlukan untuk menghadapi perang secara fisik, namun jihad Umat Islam mesti berjuang untuk kebutuhan yang urgen dalam menggapai kemajuan Islam. Perang opini yang menjadi media paling berbahaya saat ini, hendaknya diikuti oleh semua umat Islam serta mengajak saudara seiman untuk membantu para pemimpin Islam yang terus konsisten berjuang pada jalan Allah SWT.

Ciptakan Stress di Tempat Kerja

Menciptakan Stres dalam Di Tempat Kerja
Semua perusahaan menghendaki adanya kemajuan-kemajuan untuk menciptakan produk yang berkualitas, dengan segala kemampuan karyawannya, perusahaan mesti produktif dan mampu bersaing dengan yang lain secara sehat.perusahaan yang produktif tentu dalam proses bekerja, para karyawannya pasti terlihat tegang karena keseriusannya bekerja, karena harapan mereka tidak hanya untuk memajukan perusahaan, namun tersimpan sebuah semangat untuk menggali potensi untuk pengembangan diri. Terkadang mereka mengalami stres, namun bagi mereka stres merupakan pondasi sekaligus motivasi untuk maju. Pokok pemikiran seorang pimpinan perusahaan saat ini, membutuhkan pemimpin yang benar-benar paham dengan SDM dan kualitas kerja yang sifatnya tidak cepat untuk puas.
Peran stres dalam dunia kerja mempunyai peranan penting,  stres yang meliki banyak ide dan daya imajinatif yang tinggi untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan. Pengaruh stres di tempat kerja sangat cepat berjangkit, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang-orang di sekitarnya. Bagi seorang pemimpin dalam suatu lembaga atau perusahaan, sangat perlu untuk memperhatikan tingkatan stres di tempat kerja  karena sangat berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Lingkungan pekerjaan anda akan semakin tidak nyaman jika tidak dihuni orang-orang stres.
Semua orang pasti pernah merasakan stres, tetapi kebanyakan stres yang ditemukan, karena tidak ada solusi untuk permasalahan yang ia hadapi. Stres seperti ini tidak akan terjadi pada seorang karyawan yang profesional serta mempunyai kesiapan yang matang dalam bekerja. Stres yang dimaksud disini adalah mencoba untuk menikmati ketegangan karena ada dorongan untuk mencapai kemajuan-kemajuan yang menjanjikan, baik kemajuan secara materi maupun untuk pengembangan diri. Penting sekali kita memelihara stres dalam dunia kerja, karena stres merupakan usaha seseorang untuk menemukan kunci dari sebuah permasalahan. Stres sebagai tanda bukti, bahwa seseorang telah berkerja dengan baik, ia tidak akan pernah nyaman, apabila belum menemukan kunci dari sebuah permasalahan yag ia hadapi. Secara kontinu akan melakukan perubahan-perubahan untuk sebuah kemajuan.
Dalam bukunya Alien Hamilton (2007) disebutkan, Kapten Cook mencatat di dalam buku diarinya “ Stres merupakan awal dari penemuan”. Dimana Claudius juga mengatakan “ berikan kepadaku oang-orang yang cemas”. Dan Camus menyimpulkan, “ hanya orang-orang yang matilah yang tidak mempunyai rasa khawatir”.
Banyak orang-orang yang sukses karena  stres, karena tidak pernah merasa puas dengan prestasinya, diantaranya adalah Cornelis Jansen, seorang pembuat jam dari Belanda, mengembangkan sebuah jimat kebersihan dan berjanji untuk membuktikan kepada orang yang skeptis dan keluarganya yang sudah lama menderita bahwa tangan kita ditutupi oleh Kuman. Ia menemukan mikrosof. Kemudian Hans Lippershey, seorang petani Belanda, terobsesi dengan ketakutan akan perajurit bayaran Jerman yang akan masuk ke dalam Negaranya untuk merampas bola lampunya yang terkenal. Ia menemukan teleskop.
Terutama kepada pimpinan lembaga atau perusahaan, dalam merekrut karyawan baru, penting sekali untuk memperhatikan tingkatan stres yang terjadi pada calon karyawan. Apabila bagi seorang calon karyawan, tidak menemukan stres dalam pekerjaannya, sebaiknya dikaji ulang, untuk menerimanya sebagai karyawan tetap perusahaan, karena di dalam suatu pekerjaan lazimnya mendapatkan tantangan-tantangan yang berarti untuk kemajuan.
Seorang karyawan yang cepat puas dari kinerjanya mendakan suatu kehancuran bagi perusahaan, sebab dengan tingkatan kepuasan yang tinggi, berakibat kepada kinerja yang semu. Pertandan seseorang itu mulai berhasil dalam kenerjanya adalah menemukan stres di setiap pekerjaannya, bukan sebagai beban, tetapi karena ingin meraih kemajuan-kemajuan yang sifatnya berkembang dan mampu bersaing dengan perusahaan di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Menurut penulis, kepuasan kinerja merupakan jebakan bagi seseorang untuk berhenti berbuat, sehingga saat itu juga, ide akan terhenti karena terlena dengan keberhasilan yang sifatnya hanya sesaat. Stres di tempat kerja penuh dengan daya cipta dan imajinatif untuk melakukan terobosan-terobosan baru untuk kemajuan perusahaan. Stres juga bisa menjamin bahwa pekerja lebih jauh dari kemungkinan akan terjadinya kecelakaan saat kerja.
Bekerja di bawah tekanan, sudah menjadi hal yang lumrah bagi para karyawan yang memiliki tingkatan stres yang tinggi, justru dengan beban tersebut, bisa memompa dan membangkitkan para pecinta stres untuk menunjukkan keberhasilan yang luar biasa. Energi stres yang positif memang bisa membangkitkan semangat dalam bekerja, tetapi harus didukung dengan kemampuan yang berkompeten di bidangnya. Karena itulah setiap perusahaan dalam merekrut karyawan tidak sembarangan, mesti sesuai dengan kemampuan di bidangnya.
Apabila perusahaan memelihara stres dalam dunia kerja, profesionalisasi dalam bekerja akan semakin meningkat karena para karyawannya adalah yang mampu di bidangnya masing-masing, sehingga dengan mengoptimalkan stres dalam dunia kerja, tentunya perekrutan karyawan dalam sebuah perusahaan, akan meminimalisir adanya  praktek nepotisme yaitu mengangkat family atau keluarganya sebagai tenaga kerja walaupun sebenarnya tidak mampu.  Stres terjadi karena tidak mampu mengatasi masalah.

Sebagai kesimpulan, di era globalisasi yang semakin maju ini, perusahaan dalam merekrut dan memberdayakan karyawannya, harus mampu merangsang  karyawannya, agar bisa kebal pada tingkatan stres yang tinggi, bekerja dengan beban dan target, agar perusahaan terus bertahan dan mampu bersaing di tingkat lokal, nasional dan internasional. Para pekerja yang terbiasa dengan ketegangan menunjukkan keseriusan yang menghasilkan kemajuan secara kontinu bukan hanya sesaat. kemudian bagi para karyawan perusahaan, agar dalam bekerja tidak cepat merasa puas dengan prestasi yang sudah ada, berbuatlah terus untuk kemajuan, baik untuk perusahaan tempat kita bekerja maupun untuk kemajuan diri. Semoga nasib para buruh dan karyawan di Indonesia terus mendapat perhatian dari pemerintah amin ya Rabbal ‘Alamin. Good Luck..!!

Pungli, Kejahatan terselubung di Sekolah

Pungli, kejahatan Terselubung Di Sekolah


“Bekerja dalam Dunia Pendidikan mesti memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak serta memiliki pondasi keagamaan yang kuat, agar terhindar dari pungli, yaitu sebuah kejahatan yang mengotori marwah pendidikan”.

Pungli sebagai salah satu perbuatan jahat oknum para pejabat yang menyalah gunakan kekuasaannya untuk mengutip pembayaran yang tidak tercantum dalam aturan pemerintah. Praktek pungli cenderung sifatnya memaksa, bahkan termasuk kategori pemerasan, karena diluar dari pembayaran resmi aturan pemerintah. Pungli juga banyak mendefinisikan dengan sebutan pungutan lihai karena sudah merambat ke berbagai lembaga, termasuk Pendidikan yang dikenal sebagai wadah untuk menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter.
Apa jadinya kalau pungli semakin marak dalam dunia pendidikan. Tentu pungli sebagai bentuk salah satu kejahatan akan berdampak negatif untuk kemajuan pendidikan. Pendidikan yang bertujuan untuk membentuk karakter, malah menjadi jalan terjadinya kejahatan. Akhir-akhir ini banyak media memberitakan tentang pungli masuk ke ranah pendidikan seperti berita di waspada edisi 12 nopember 2016 “pungli sudah masuk ke ranah pendidikan”. Tak perlu kita sebut satu persatu, namun yang terpenting menurut penulis, agar pungli di dunia pendidikan, hendaknya segera di sapu bersih oleh SATGAS SABER Pungli yang telah dibentuk oleh Pemerintah.
Ini akan menjadi masalah yang pasti kian membelenggu dalam dunia pendidikan, apabila tidak segera diselesaikan. Percuma pemerintah mengeluarkan APBN sebesar 20 % untuk pendidikan, apabila dalam penyalurannya tidak efektif. Justru ini akan menjadi penghalang untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
pungli pada ranah pendidikan menunjukkan ketidak jujuran dalam menjalankan amanah pendidikan di Indonesia, baik sebagai kepala Dinas maupun kepala sekolah. Saya tidak bisa bayangkan, betapa cerdas dam cerdiknya seseorang yang melakukan pungli di dunia pendidikan. Penting sekali untuk dipahami, agar Saber Pungli pada ranah pendidikan dilakukan dengan sangat teliti karena pelakunya adalah orang-orang pintar yang punya mental sebagai perusak wajah pendidikan. Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana membuat laporan LPJ nya kepada pemerintah, sehingga tersusun rapi padahal penuh dengan kebohongan-kebohongan.
Pada saat pungli dibiarkan dalam dunia pendidikan, besar kemungkinan pendidikan tersebut secara tidak langsung melahirkan kurikulum baru yaitu membudayakan pungli. Dalam dunia pendidikan, sering kali terjadi pengutipan-pengutipan yang kita anggap hal biasa, seperti pengutipan administrasi ujian, biaya peralatan dan lain sebagainya. memang kita tidak bisa langsung menyalahkan Sekolah, karena pungutan tersebut terkadang bertujuan untuk proses belajar mengajar yang sangat urgen. Namun tetap saja,  hal itu bisa menjadi penyebab membudayanya pungli di Sekolah, meskipun karena keterbatasan biaya. Dalam hal ini, mungkin perlu transparansi dalam mengelola keuangan, agar tidak ada lagi kutipan di pertengahan pembelajaran.
Apabila pungli terus marak dalam dunia pendidikan, Indonesia tidak hanya mengalami krisis ekonomi, namun akan membuka peluang untuk krisis pendidikan, karena pungli bisa saja berakibat kepada karakter seorang pendidik berubah menjadi penjahat. Dalam bidang ekonomi, pungli hanya menguntungkan satu pihak yang memegang tampuk kekuasaan untuk meminta, dengan kata lain yang kaya makin kaya dan yang miskin bertambah miskin. Apabila ekonomi merosot dan pendidikan terpuruk, maka akan berakibat patal untuk kemajuan Negara dan Agama.
Ketika pungli semakin lihai, tidak hanya dalam ranah pendidikan, kemanapun ia merambat, pasti akan menjadi suatu keresahan masyarakat sekaligus sumber masalah yang sangat sulit, terutama untuk kaum lemah. hal ini sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, agar pungli disapu bersih dari semua instansi, baik di Instansi pemerintah maupun swasta karena pungli akan berpengaruh untuk sebuah kemajuan Negara. Pungli di Sekolah memerlukan pengawasan secara mendalam dan konprehensif, meskipun ada pungutan karena persetujuan orang tua siswa. Bagi orang tua siswa yang ekonominya kuat, ia pasti akan ikhlas untuk membayarnya karena untuk kemajuan anaknya. Namu bagi orang tua yang ekonominya lemah, pasti masalah ini akan menjadi sangat mengganjal dalam pikirannya, terutama anaknya akan minder dengan kawan-kawannya.
Sebagai kesimpulan, beragam macam pungli terjadi di Sekolah, mulai dari uang ujian, buku, wisuda, kenang-kenangan dan sebagainya, memerlukan perhatian khusus bagi pemerintah, agar pungli dibersihkan dari sekolah, terutama sekolah yang berada dalam naungan pemerintah.  Penemuan pungli di sekolah menimbulkan banyak pertanyaan, diantaranya adalah : apakah pemerintah tidak mencukupi fasilitas sekolah atau malah dana pendidikan yang diberikan Negara itu tidak sampai ke sekolah, mungkinkah oknum pejabat yang menggelapkannya, sehingga tidak bisa terlihat hasilnya. Pertanyaan-pertanyaan itu pasti bisa dijawab oleh pemberantas pungli yang sudah diamanahi Pemerintah apabila benar-benar dalam menjalankan tugasnya.  Tentu kita sangat menginginkan keputusan Perpres atau Peraturan Presiden  No­mor  87 Tahun 2016 tentang (pem­ben­tukan)  Satuan Tugas Sapu Bersih (Sat­gas Saber Pungli) segera beraksi, terutama pada ranah pendidikan.
Semoga Satgas Saber pungli lebih peduli kepada pungli pada ranah pendidikan, agar pendidikan di Indonesia bisa berjalan dengan baik, sehingga dana yang disalurkan pemerintah untuk pendidikan bisa bermanfaat untuk kemajuan Negeri yang tercinta ini. Kemudian kepada para pemimpin yang diamanahi untuk menanggung jawabi kemajuan pendidikan di Indonesia, hendaknya jangan mengotori dunia pendidikan dengan pungli, karena pungli adalah kejahatan yang sangat bertolak belakang dengan dunia pendidikan.

Sebagai saran kepada pemerintah, selain memberantas pungli di Sekolah mesti sejalan dengan pemberantasan korupsi yang dianggap sebagai pemicu terjadinya pungli. Dan salah satu usaha untuk menghentikan pungli di Sekolah, pemerintah harus melengkapi fasilitas-fasilitas sekolah dan mengutamakan kesejahteraan guru. Apabila fasilitas sekolah lengkap dan gurunya sejahtera,  maka besar kemungkinan untuk tidak terjadi korupsi dan pungli. 

Hindari Zona Nyaman menuju kemajuan karya Tantomi Simamora

Hindari Zona Nyaman Menuju Kemajuan

Sebuah motivasi yang sering disampaikan oleh atasan saya, untuk terus semangat dalam bekerja dengan cara menghindari kepuasan terhadap diri sendiri dan tidak boleh terjebak dalam satu rutinitas saja. Zona nyaman yang dimaksud disini, orang yang memiliki jiwa kemajuan akan terus memikirkan ide-ide baru dalam aktifitasnya, ia akan terus melakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kinerjanya, tidak pernah nyaman dengan sesuatu yang ia hasilkan. Jangan sampai Zona nyaman ini terpatri di dalam jiwa seseorang, karena akan mengakibatkan tidak kompetitif untuk menuju sebuah kemajuan. Zona nyaman akan membuat seseorang terlena, dinina’boboin oleh rasa kepuasan terhadap diri sendiri, karena sudah berhasil mengerjakan yang menjadi rutinitas setiap harinya. Akibatnya, pekerjaan tersebet tidak mengalami perkembangan signifikan, karena mengandalkan kebiasaan-kebiasaan lama. Tentunya, tentunya, hal ini akan sangat berpengaruh untuk kemajuan suatu lembaga atau perusahaan. Jika kita belajar dari sejarah, merek mobil 100 tahuan yang lalu tidak ada apa-apanya, jika kita bandingkan dengan mobil yang ada sekarang. Artinya setiap saat kita harus terus melakukan hal yang terbaik dalam hidup kita, baik untuk meningkatkan kualitas diri maupun perkejaan, agar dalam setiap pekerjaan itu, lebih bermakna dan bermanfaat. Kemudian dari pandangan Islam, melalui hadis nabi: “ Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik dari pada hari yang kemaren maka dia termasuk orang yang beruntung, barang siapa yang harinya sama dengan yang kemaren, dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek dari yang kemaren maka dia terlaknat. Meski hadis ini tidak bisa sebagai hujjah mengingat tentang keshahihannya di kalangan Ulama hadis, Namun ajarannya sangat bermanfaat, karena sama saja dengan hari yang kemaren, manusia sudah dikategorikan merugi, apalagi sekarang lebih buruk dari yang kemaren. Bukan lagi merugi akan tetapi sudah terlaknat sebagai manusia yang tidak menunjukkan perkembangan dalam kehidupannya. Padahal manusia itu sifatnya berkembang, dengan fasilitas-fasilitas yang dimilikinya seperti hati dan pikiran. Dari beberapa pandangan tersebut dapat kita ambil hikmah, betapa pentingnya ide-ide baru sebagai penggagas menuju kemajuan, dan untuk mewujudkan suatu kemajuan, tentu harus menghindari rasa nyamana dalam setiap pekerjaan. Paling tidak ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk terhindar dari zona nyaman menuju kemajuan. Pertama, memiliki loyalitas yang sangat tinggi, sehingga ia mencintai profesinya , dan dengan rasa cinta tersebut akan membawanya menuju kemajuan yang berkesinambungan karena selalu memikirkan ide-ide, agar nilai plusnya kian bertambah. Kedua, Selalu memperbaiki kualitas kerja. Sebaiknya kita terus melakukan metode-metode baru dalam bekerja. Tidak ada salahnya untuk melakukan hal baru dalam pekerjaan anda, walaupun akhirnya gagal, karena dari kegagalan tersebut, akan membawa kita kepada sifat kesensitifan yang akan rentan menjadi orang yang sangat kritik terhadap masalah-masalah dalam pekerjaan, bahkan dalam masalah yang ringan sekalipun, ia akan terus berpikir dan berbuat untuk yang terbaik dalam setiap pekerjaannya. Ketiga, Tidak boleh terjebak dalam satu rutinitas. Berkerja keras setiap hari memang merupakan suatu kewajiban bagi para pekerja, namun kalau pekerjaannya berputar hanya disitu-situ saja, justru hasilnya akan nihil, karena tidak ada kreatifitas baru dalam pekerjaannya. Terjebak dalam satu rutinitas merupakan masalah yang sangat urgen dalam pekerjaan, karena jebakan itulah yang akan menyebabkan seseorang lupa dan tidak kompetitif. Di era global ini, tentunya banyak hal yang harus kita pikirkan untuk sebuah kemajuan dan harus siap bersaing prestasi-prestasi yang tinggi sekalipun. Keempat, Menghindari pujian. Pada hakikatnya, pujian adalah cobaan. Jika kita terlalu nyaman dengan satu pujian orang lain, tentu akan membuat kita cepas puas dengan yang kita lakukan, sehingga ide saat itu juga terhenti untuk melakukan pemabaharuan-pembaharuan. Pujian bisa saja membuat kita bahagia, tetapi jika kita terlalu nyaman dengan pujian karena meraih satu prestasi, malah akan membuat anda tidak bahagia dan semakin tersiksa, karena anda terus berada dalam zona kenyamanan. Kelima, berpikir positif. Berusaha terus untuk melakukan hal yang terbaik untuk meningkatkan kinerja, menerima semua kritikan dan saran dari orang-orang yang ada disekitar kita, meskipun tujuannya melemahkan anda karena itu adalah pelajaran yang sangat berharga. Seperti kata pepatah yang berasal dari Minangkabau “Alam takambang jadi guru”. Makna Pepatah tersebut, agar gita belajar pada alam sekitar kita. Fenomena kehidupan sesungguhnya membawa suatu keripan, jika kita berpikir secara positif. Sebagai kesimpulan, zona nyaman merupakan hal yang paling sulit untuk kita hindari dalam kehidupan, karena hal itu bisa menjadi sebuah dilema dalam kehidupan kita, terutama dalam dunia kerja. Terlalu larut dalam zona nyaman, saat itu kita kan terhenti berpikir untuk melakukan tugas-tugas lain yang sudah menunggu. Di era globalisasai yang semakin bersaing ini, terutama dalam dunia kerja, sangat menuntut untuk memiliki cara pandang yang luas untuk menanggapi segala fenomena yang terjadi sekitar kita, karena fenomena tersebut bisa berakibat patal untuk sebuah kemajuan. Opini ini hanyalah sebagai pandangan-pandangan terhadap dunia kerja saat ini yang memerlukan pembaharuan-pembaharuan menuju profesionalisme dalam bekerja. Kemudian untuk meraih sukses, tidak hanya mengandalkan keahlian yang sudah kita miliki, tetapi harus terus belajar dan berlatih, agar keahlian itu kian bertambah dan berkesinambungan ke masa yang akan datang. Cara berpikir yang jauh kedepan merupakan salah satu cara agar terhindar dari zona nyaman menuju kemajuan.

Pemimpin Penebar Kebohongan

Pemimpin Penebar Kebohongan
Oleh:
Tantomi Simamora, S.Sos.I

Indonesia salah satu Negara Demokrasi terbear di Dunia, mayoritas beragama islam, seharusnya bisa menjadi contoh pemimpin yang mempunyai Idealisme. Namun Ironisnya, masih banyak Pemimpin yang terpilih karena uang. Selain uang, untuk meraih suara terbanyak dalam pemihihan pemimpin, sering kali menggunakan agama sebagai simbol.  Kualitas kepemimpinan yang seperti ini adalah hasil dari kebohongan apabila tidak amanah dan Tanggung jawab. Jangan pernah berharap kepada kebaikan yang hakiki, apabila usaha yang kita lakukan bercampur dengan kebohongan
Seorang pemimpin dalam menegakkan keadilan mestinya harus menghindari kebohongan, hendaknya ini bisa dipahami para pemimpin yang menginginkan keberkahan hidup, sehingga terwujud negara yang cinta akan kebenaran hakiki bukan kebenaran semu. Pemimpin yang memiliki prinsip kejujuran akan menjadi tumpuan harapan para pengikutnya. Mereka akan sadar bahwa kualitas kepemimpinannya ditentukan seberapa jauh kepercayaan dari pengikutnya.
Disi lain, ada pemimpin yang sangat suka menebarkan kebohongan dengan mengatas namakan agama, berkata tidak sesuai isi hatinya, memakai simbol agama namun tak terlihat dalam dirinya pancaran dari prilaku yang agamis. Semua itu dilakukan demi kepentingan politik, agar bisa menjadi seorang pemimpin.Tentu saja hal ini akan menjadi musibah bagi suatu negeri atau terhadap orang-orang yang ia pimpin, karena semua harapan adalah harapan kebohongan.
Akan sangat mengkhawatirkan, apabila Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas islam tidak memilki aset pemimpin yang jujur,  Kondisi yang sangat memperihatinkan saat ini , korupsi dan pungli semakin merajalela, menunjukkan kebobrokan kepemimpinan, karena kerap kali  dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kemudian fenomena kehidupan saat ini, banyak yang melakukan penipuan dengan berkedok agama. Sebagai contoh kasus yang mencuat sekarang Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang diduga telah melakukan penipuan.terjadinya banyak korupsi di negara kita ini, merupakan bukti nyata bahwa Indonesia miskin pemimpin amanah.
Banyak contoh yang tidak perlu disebutkan, terkait dengan pemimpin yang terbukti melakukan kecurangan-kecurangan di negeri tercinta ini, sehingga dalam perjalanan pemerintahan, waktunya habis terkuras untuk mengatasi kasus/perkara terkait dengan pemimpin bangsa sendiri. Akibatnya, kemerosotan ekonomi, karakter tidak bisa diatasi sampai sekarang, hanya karena sifat kebohongan. Tidak kah kita melihat dalam sejarah, bahwa kepemimpinan yang jujurlah yang akan membangkitkan dunia ini kepada kebangkitan yang hakiki.
Para penebar kebohongan akan menghasilkan kekosongan, beribu janji yang  diubar tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali rasa kecewa dari orang-orang yang menjadi target pembohongan tersebut. Jika diibaratkan sama seperti sebuah bangunan yang hanya tinggal simbolnya saja, isinya sudah tidak ada, karena sudah bangkrut karena tidak ada aset lagi untuk membangunnya. jika dia menebar kebohongan dengan mengatas namakan agama, maka sama juga halnya seperti Islam yang hanya simbol atau Islam KTP, Islam hanya sebagai status saja. Maka dalam hal ini, yang menjadi aset utama dalam memimpin adalah kejujuran yang bukan hanya dari ucapannya, namun harus terwujud dalam perbuatannya.
Allah mengisaratkan kepada muslimin, agar selalu bersama orang-orang yang jujur karena jauh bermanfaat dari pada pendusta. Fenomena kehidupan yang terjadi saat ini, menunjukkan bahwa sudah menjadi kewajiban bagi negeri ini, untuk mencari pemimpin yang benar-benar jujur. Sebab kita meyakini, negeri akan aman jika dikendalikan orang-orang jujur, sebaliknya jika dikendalikan para pendusta akan membawa azab bagi negeri ini. Lazimnya negeri ini segera melakukan pembaharuan-pembaharuan baru dalam memimpin. Sejenak kita melihat sejarah, bahwa kemajuan umat islam pada masa Daulah Abbasiyah dibawah pimpinan Harul Al-Rasyid, telah melahirkan peradaban islam yang maju dan berkembang. Bahkan masa pemerintahannya, dianggap sebagai puncak kemajuan Islam atau sering disebut dengan masa keemasan Islam. Kekjujurannya dalam memimpin, ketika Yahya bin Khalid selaku yang membesarkannya di Istana, melakukan korupsi, tidak pandang bulu, beliau memberlakukan hukum sama seperti yang lainnya.
Kenapa para pemimpin yang beriman tidak pernah coba-coba untuk berbohong?. tidak ada jawaban yang lain kecuali karena mereka benar-benar yakin, bahwa sebuah kemenangan yang hakiki diperoleh dengan kejujuran yang sudah dicontohkan para nabi, sahabat sampai tabi’in. Apabila kita sudah meyakini ajaran tentang kejujuran, mestinya harus melakukan perubahan dari diri, agar menjadi orang jujur, terutama kepada generasi muda sebagai penerus bangsa ini. Kejujuran hanya bisa diraih denga hati yang bersih, ketika hati telah kosong dan dikotori oleh perbuatan-perbuatan zolim, otomatis akan merusak hati yang pada awalnya adalah suci.
Sebagai kesimpulan, Kebohongan akan menghasilkan kebohongan lain. Sebaliknya kebenaran akan meraih level tertinggi dalam kehidupan, terutama bagi para pemimpin bangsa ini, seyogianya menyadari bahw Kebenaran akan datang dari hati kecil manusia yang tidak pernah berdusta, jika hati terus diisi dengan mengingat Allah, tentunya akan mewujudkan kenyamanan. Kalau perut sedang lapar maka akan membutuhkan makan tetapi jika hati telah kosong lazimnya diisi dengan Zikir (mengingat Allah SWT).

Pemimpin yang selalu menebarkan kebohongan akan menghasilkan sesuatu yang kosong dan tidak berarti apa-apa. Apabila berharap kepada pemimpin penebar kebohongan, maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kekecewaan. Pemimpin penebar kebohongan tidak hanya berdampak negatif kepada dirinya, namun akan menjadi fitnah untuk orang lain, terutama untuk orang-orang yang ia pimpin. Yang sudah jelas dalam ajaran Islam, bahwa pemimpin penebar kebohongan sangat bertolak belakang dengan kehidupan beragama yang merindukan pemimpin yang amanah.

pemimpin Idola

Pemimpin, Harapan dan Idola

Oleh
Tantomi Simamora, S.Sos.I

Pernah terlintas dalam pikiran saya, Menjadi seorang pemimpin itu, sangat menggiurkan dan cukup menjanjikan, baik dari segi pangkat maupun penghasilan. Terlebih saat ini, menjelang Pilkada Serentak 2017 akan dilaksanakan, seorang calon kepala Daerah akan melakukan kampanye bergengsi, dalam rangka mencari simpatisan dan dukungan rakyat, agar dia terpilih menjadi seorang pemimpin, paling tidak di daerahnya. Sungguh pekerjaan yang sangat profesional dan sangat menantang. Kemudian dalam pikiran saya, keberhasilan seorang pemimpin untuk mencari dukungan tersebut, merupakan pekerjaan cukup berat, karena hanya  seketika, bisa meyakinkan rakyat untuk memilihnya menjadi seorang pemimpin.
Padahal, pekerjaan yang sangat sulit menurut penulis adalah merobah tingkah laku manusia, karena seratus manusia pasti akan berbeda-beda pikirannya. Untuk menyatukan hati manusia bukanlah pekerjaan yang mudah, memerlukan pemimpin yang benar-benar paham ilmu tentang sosial dan psikologi manusia. Lebih dari itu, seorang calon pemimpin, mesti kuasai ilmu politik yang mantap serta memberi pengaruh positif bagi Publik.
Untuk menjadi seorang pemimpin, berbagai cara dilakukan untuk mencari dukungan dari rakyat seperti terjun langsung ke masyarakat untuk mempromosikan dirinya, memberi bantuan kepada rakyat, bahkan terkadang harus dengan memberikan bayaran untuk suara rakyat. Dalam hal ini, Penulis tidak bermaksud mengungkap kasus suap, namun yang jadi sorotan disini adalah betapa sulitnya menjadi pemimpin.
Jika kita lihat dari pengkajian sejarah Islam, kondisi jaman yang sangat buruk saat itu yang dikenal dengan jaman jahilyah memerlukan seorang pemimpin untuk  memberikan penerangan yang pasa saat itu penuh dengan kegelapan. Muhammad diangkat sebagai Rasul melalui firman Allah dalam Al-Qur’an Suroh Al-‘Alaq ayat 1-5. Kalimat (Iqro’) bukanlah sekedar membaca, tetapi pada saat itu juga, Nabi Muhammad diutus untuk semua umat dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang penuh dengan keburukan.  Malaikat Jibril mengulanginya sampai tiga kali sebagai penegasan, betapa pentingnya membaca dan berpikir sebelum melakukan.
Dari kejadian itu, bisa kita ambil hikmah, betapa beratnya jadi seorang pemimpin, nabi Muhammad SAW sampai menggigil, sesaat setelah menerima wahyu tersebut. Menjadi seorang pemimpin ummat butuh pemikiran yang sangat luas, tidak hanya cerdas tetapi harus bisa menjadi contoh yang baik kepada yang ia pimpin.kemudian yang terpenting untuk diperhatikan seorang pemimpin, bahwa tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya kepada manusia, tetapi langsung bertanggung jawab dengan Rabbnya.
Meski berat menjadi pemimpin, tetapi manusia dituntut untuk  menjadi pemimpin, karena kualitas masyarakat sangat ditentukan oleh seorang pemimpin yang bisa mengendalikan sosial dan budaya dalam suatu masyarakat. Walaupun tidak bisa menjadi pemimpin orang banyak, paling tidak bisa menjadi pemimpin diri dan keluarganya.
Kepemimpinan adalah salah satu masalah yang penting dalam kehidupan, baik di lingkungan keluarga, instansi maupun pemerintahan. Kehadiran pemimpin akan menjadi idola dalam kehidupan, apabila dalam kepemimpinannya memiliki power yang kuat untuk memutuskan suatu kebijakan penuh dengan keadilan yaang merambat kepada semua kalangan,  mulai dari masyarakat level bawah sampai level yang paling tinggi.
Namun, saat ini kita sangat merasakan kegagalan-kegagalan dalam pemimpin, dibuktikan dengan banyaknya masalah-masalah yang tidak terselesaikan di Negeri tercinta ini, mulai dari masalah ekonomi, sosial bahkan dibidang agama sudah sangat terlalu jauh, dengan maraknya Isu Sara dan Penistaan agama. Hal ini sangat perlu untuk dilakukan kajian yang sangat mendalam, agar hal tersebut tidak tercatat dalam sejarah kemunduran Negara di  Indonesia.
Tentu kita sangat merindukan seorang pemimpin yang menjadi idola rakyat, karena dalam setiap kebijakannya selalu membawa kearifan dan kedamaian. Indonesia harus mempersiapkan generasi pemimpin yang adil pada masa yang akan datang, termasuk untuk melakukan pembinaan untuk para calon pemimpin saat ini, baik ditingkat daerah maupun Nasional, agar dalam kepemimpinannya nanti bisa membuahkan hasil yang bisa kita rasakan bersama bukan hanya untuk  sebuah kelompok.
Di Era globalisai yang serba maju ini, menunutut para pemimpin bangsa ini, agar melakukan pembaharuan-pembaharuan, mengingat banyaknya kekacauan-kekacauan yang datang dari mental-mental manusia sebagai perusak, hal itu akan mengakibatkan merosotnya ekonomi, politik,budaya maupun sosial. Sedangkan harapan dari rakyat sudah lama terpendam agar Negeri ini dilindungi oleh para pemimpin yang adil serta dalam membuat keputusan secara bijak dan tegas.
Kondisi suatu negeri akan semakin membelenggu, jika tidak hadir seorang pemimpin yang disukai rakyat karena keadilannya. Terwujudnya negeri yang aman dan sejahtera memang tidaklah pekerjaan yang mudah, perlu perjuangan yang berat dari para pemimpin bangsa ini. Tugas ini sebenarnya tanggung jawab kita semua, tetapi harus didukung oleh pemimpin baik di tingkat eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Sebagai kesimpulan, untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu hal yang mudah, karena harapan rakyat sangat besar bagi mereka, agar mampu mengendalikan negeri tercinta ini dari kekacauan-kekacauan yang mengakibatkan kemunduran. kemudian yang terpenting untuk kita ketahui, bahwa sifat pemimpin yang adil dan bijak itu datang dari kharakter seorang pemimpin yang tulus, tidak datang dari sembarang orang. Terlebih-lebih menjelang Pilkada ini, berhati-hatilah dalam memilih pemimpin, jika awalnya saja seorang  pemimpin dalam mencari dukungan memakai jalan yang salah, tentu hasilnya pasti lebih salah. Pemimpin Idola yang menjadi harapan rakyat adalah pemimpin yang mampu mewakili rakyat untuk mengemban amanah sesuai dengan bidang yang ia pimpin. Mari kita  terus berdoa , agar Negeri ini mendapat pemimpin terbaik yang mampu melakukan perubahan-perubahan, demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan rakyat.